Tanda Petik, Tegak atau Miring: Menjuduli Album dan Menajuki Tembang

Coba perhatikan kalimat di bawah ini:

Billy Idol baru saja menerbitkan Kings & Queens of the Underground. Sebelumnya, ia juga menggarap ulang “Flesh for Fantasy”.

Nah, bisa tidak situ membedakan mana judul album dan mana tajuk tembang? Ah, seandainya situ memang penjelajah musik pasti dengan mudah menjawab pertanyaan di atas. Namun seumpamanya sampeyan adalah kader militan PKS, beringas menghabiskan waktu cuma untuk mengkafirkan orang lain, memandang sesuatu melulu harfiah, tentu bakal sulit mengenali yang mana judul lagu yang mana tajuk rekaman.

Kings & Queens of the Underground adalah titel album dan “Flesh for Fantasy” titel lagu dari Billy Idol.

Jadi jika hendak menerangkan rilisan tergres Orange Goblin seyogianya dilakukan seperti ini: “Sabbath Hex” merupakan tembang andalan dari komposisi terbaru Back from the Abyss.

Atau menyoal gebrakan paling mutakhir Led Zeppelin: Jimmy Page tertarik dengan ide menggelontorkan kembali—versi poles ulang mutu audio—Houses of the Holy serta menyisipkan pendekatan berbeda terhadap “The Songs Remains the Same” dalam sebentuk album ganda alias edisi deluxe.

Houses of the Holy reissue
Houses of the Holy reissue

Jika mengacu pada Chicago Manual of Style serta Modern Language Association maka peraturan yang disebut di ataslah yang dianggap sah. Menurut kedua entitas tersebut kursif/huruf miring digunakan untuk;

1. Album rekaman: Phantom Radio; World Peace is None of Your Business
2. Film dan Televisi: Interstellar; John Wick (film jelek! Cih!); True Detective; Homeland
3. Buku: Rolling Stone Encyclopedia of Rock & Roll; The Smart Guide to Single Malt Scotch Whisky
4. Pertunjukan: Grease: The Musical; Wayang Orang Rock
5. Pidato (yang cukup panjang, monumental): Indonesia Menggugat; The Ballot or the Bullet

Yang wajib diingat, tanda baca di belakang masing-masing titel tak perlu ikut dimiringkan. Contoh: Antum kader PKS nan picik-literal tahu tidak tentang London Calling?

Artinya ketika tanda baca tersebut memang menjadi bagian dari kalimat, posisinya tetap dimiringkan. Misalnya: Are We Not Men? We Are Devo!

Sementara itu penggunaan tanda petik ganda diterapkan pada;
1. Judul lagu: “Sex, Drugs and Rock ‘n’ Roll”.
2. Mengapit tajuk syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat: Bab “Whisky Words: A Glossary of Whisky Terminology” ada di halaman belakang buku panduan tersebut.
3. Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain:
“Antum simpatisan PKS,” Brian Setzer berbisik, “sebaiknya sesekali menghibur diri dengan rockabilly untuk mereduksi kedunguan skala memalukan.”
4. Mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus: Punk rock dikenal juga dengan istilah “musik tiga jurus”.

Yang menarik, hukum di atas tak bisa juga disebut baku sebab, salah satunya, Associated Press Stylebook yang notabene dianggap sebagai salah satu kitab suci jurnalisme justru menggunakan tanda petik ganda saat menyebut judul buku dan lain-lain yang oleh Chicago Manual disarankan menggunakan kursif. Sementara itu majalah Metal Hammer malah menggunakan kursif baik untuk tajuk album maupun lagu. Contoh: Tembang Kashmir dari Led Zeppelin terdapat di album Physical Graffiti.

Berbeda dengan Mojo (majalah favorit saya! Hore!), untuk album mereka memakai huruf miring dan lagu mereka menggunakan huruf tegak biasa dengan huruf kapital sesuai kebutuhan. Misalnya: Lagu Van Halen bertajuk Take Your Whiskey Home ada di album Women and Children First. RSTraxHai
Di Indonesia sendiri majalah Rolling Stone dan Trax tampaknya mengikuti mazhab Chicago Manual. Sementara itu Hai malah bak antitesis terhadap gaya Mojo, judul lagunya kursif, tajuk albumnya tegak. Sebut saja: Bark at the Moon milik Ozzy Osbourne dari album Bark at the Moon cocok dipakai untuk mengundang genderuwo.

Lalu mana yang sepatutnya digunakan? Dari sebegitu berlimpah referensi yang saya baca, nihil yang tegas mengatakan si ini atau si itu yang paling benar. Yang jelas, elemen paling vital dalam dinamika kebahasaan semacam ini adalah konsistensi. Silakan patuhi Chicago Manual atau AP. Atau mengusung mazhab sendiri. Yang penting teguh, taat asas, berketetapan hati pada satu gaya.

_________

Referensi:
1. How to Use Italics
2. Single Quotation Marks Versus Double Quotation Marks
3. Do You Underline Book Titles?
4. Using Italics and Underlining
5. Tanda petik

3 thoughts on “Tanda Petik, Tegak atau Miring: Menjuduli Album dan Menajuki Tembang

  1. Analisa yang oke nih, brocux. Sekadar nambahin, sebenarnya kalo dari RSI (majalah & online) kita dalam menggunakan tanda baca untuk penjudulan album, lagu, film dsb. mengikuti tradisi principal kita, Rolling Stone USA. Kurang paham juga mazhab mana yang mereka pilih, secara mereka generasi hippie San Francisco hehe, mungkin juga yang dipilih bukan Chicago Manual atau AP. Masing-masing media memang punya tradisi dan “hukum” tersendiri untuk penggunaan tanda baca semacam ini (coba cek Kompas & Tempo). Setuju dengan elo, yang penting konsistensi, agar sidang pembaca yang terhormat tidak menjadi bingung adanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *