Seringai: Menolak Tua dan Bangga

Seringai-group
Memainkan musik rock oktan tinggi padu padan antara Motörhead, Black Sabbath, dan MC5. Menonjolkan tabiat in-your-face, tanpa tedeng aling-aling. Telah melewati kepala 3 namun, dalam jiwa, usia mereka berhenti di 15. Demikian justifikasi Seringai soal kenapa besutan terbarunya dijuduli Generasi Menolak Tua.

Benar, kongsi cadas yang berdiri pada 2002 ini baru saja secara resmi merilis film dokumenter dalam format DVD bertajuk Generasi Menolak Tua. Di dalam dokumenter tersebut tergambar jelas seperti apa sosok Arian13 (vokal), Ricky Siahaan (gitar), Sammy Bramantyo (bas), Edy “Khemod” Susanto (drum). Spirit menolak tua pula agresif tersimak lewat cuplikan beberapa konser—mulai awal karir hingga yang termutakhir, dari pesta pernikahan teman hingga pentas seni sekolah—yang menampilkan permainan musik yang rapat, bersemangat dan penuh keringat, ditimpali tingkah para penonton yang tak kalah beringas, bergerombol bagaikan serigala (dari situlah Seringai mendapat inspirasi untuk memberi nama penggemar mereka “Serigala”).

Arian, sang vokalis, membeberkan substansinya, “Lewat DVD ini kami ingin menjelaskan visi misi kami. Nggak cuma maen musik dan kelar, tapi ada tujuan bermusik juga. Nah, semua info itu bisa didapat di dokumenter ini.” Mengenai aktivitas di belakang panggung ia menambahkan, “Soal adegan-adegan di backstage, memang itu yang kami lakukan untuk menghibur diri di backstage. Biar nggak bosen nunggu lama.”

“Kami membuat ini sebagai hiburan yang bisa ditonton siapa saja dan moga-moga mereka menikmatinya. Kami juga memikirkan faktor entertainment-nya, makanya ditambahin beberapa selingan lucu, sengaja ada gambar yang kami take baru, karena dirasa bagian-bagian ke belakang makin serius. Jadi ya salah satu tujuannya untuk entertainment, sesuatu yang bisa jadi hiburan,” sambung Sammy yang mendapat tugas menyutradarai dokumenter ini karena waktunya paling fleksibel di antara personel lain.

Dokumenter ini juga dipisahkan menjadi beberapa segmen seperti biografi, lirik, dsb. Dari situ diharapkan timbul efek ganda yaitu: para Serigala jadi makin mengenal band pujaannya, sementara bagi orang yang belum mengenal Seringai akhirnya tawakal bertransformasi menjadi Serigala.

Paling mula diawali dengan album mini High Octane Rock pada 2004, disusul album penuh Serigala Militia pada 2007, lalu di 2010 meluncurkan karya monumental—mungkin inilah film dokumenter band paling pertama di Nusantara—Generasi Menolak Tua. Ini benar-benar sebuah gebrakan menyegarkan sekaligus akan memperkaya perpustakaan musik Nusantara. Jadilah bagian dari sejarah dengan mengkoleksi DVD ini, silakan kontak http://www.facebook.com/Seringai.

Mari menolak tua dan berhenti di 15!
__________________

Artikel ini pertama kali tayang di majalah The Beat Jakarta edisi April 2010
Saksikan cuplikan dari DVD Generasi Menolak Tua:

3 thoughts on “Seringai: Menolak Tua dan Bangga

  1. Dokumenter paling brengsek dan seperti yang sudah Bli Rudolf perkirakan.. Gua jadi tawakal bertransformasi menjadi Serigala Militia.. Bhahahak.. Eniwei, Facebook Gue di konfirmasi dong bli.. hahaha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *