Pemuja dan Pemuji: Kelola dan Mobilisasi

Menyapa. Membuka pintu. Menggiring masuk. Mempersilakan duduk. Membikinkan minuman—atau menyuguhkan makanan.

Membuat nyaman. Bertegur sapa. Berbicara. Membangun rasa percaya dan sesekali memberi fatwa.

Kalimat di atas adalah penjabaran gampang-cerna tentang langkah lanjutan setelah propaganda sederhana tepat guna. Ya, manuver ke berikutnya berupa pengorganisasian. Orang-orang yang telah bersedia menjadi kawan segera dikelola, “sahabatnya sahabatku punya sahabat” yang sudah bergabung di page Trio Kiamat Raya mulai dimobilisasi. Semua yang nge-like difasilitasi di sebuah wadah khusus: Trio Kiamat Raya Fans Club. Agar khas, para penggemar itu diberi julukan khusus seperti Rakyat Kiamat Raya atau Sejawat Kiamat. Terserah namanya seperti apa, intinya berikan para pendukung identitas spesial sehingga mereka makin bangga menjadi bagian tak terbantahkan dari Trio Kiamat Raya. Jika perlu bikinkan juga tanda pengenal khusus semacam kartu anggota yang resmi. Club members didata secara apik dan sistematis. Tempat, tanggal lahir, lokasi domisili, semua diinspeksi secara rapi. Usahakan mengenali mereka lebih dekat.

Apa untungnya membuat klub khusus bagi penggemar? Ngapain susah-susah mencetakkan KTP Sejawat Kiamat? Jawaban instan-berangasannya: demi melahirkan umat.

Jawaban cergas-bertanggungjawabnya:
1. Fans adalah modal terpenting selain anggota band itu sendiri.
2. Jika kita bisa mengelola pemuja lewat fans club maka kita juga bisa membaca sedari awal seberapa kekuatan kita.
Contoh A: saat Trio Kiamat Raya hendak tampil di seputaran Kemang, Jakarta, misalnya. Sejak mula kita sudah cukup bisa menebak kira-kira siapa saja yang bakal datang, kurang lebih berapa orang Sejawat Kiamat akan nongol, dsb. Plus, kalau pun nantinya ada beberapa Sejawat Kiamat berhalangan hadir, kita bisa cek silang dengan nada akrab bercanda, “Eh, Amir Hamzah—sekadar menyebut contoh—katanya Sejawat Kiamat sejati, tapi kamu kok gak dateng pas konser semalem? Pasti lagi datang bulan ya? Hehehe!” Semoga setelah dibecandain kayak gitu, ke depannya si Amir Hamzah akan berusaha selalu hadir seminimalnya saat konser di Kemang.
Contoh B: ketika Trio Kiamat Raya merilis album, dengan mudah kita bisa tau seberapa orang yang ‘ngeh’ tentang Trio Kiamat Raya yang baru saja merilis album. Pula, kita bisa sedikit menerka-nerka seberapa banyak orang yang bakal rela membeli album baru kita. Jika kita punya, katakanlah 1000 orang yang mengaku penggemar dan ber-KTP Sejawat Kiamat, at least kita bisa berharap 100 orang rela merogoh saku demi album baru milik Trio Kiamat Raya.
Contoh C: giliran Trio Kiamat Raya berkesempatan tampil di luar kota—semisal ke Denpasar—kita tidak usah khawatir jika ternyata pihak pengundang hanya bisa memberangkatkan 4 orang (Trio Kiamat Raya + manajer). Kita bisa kerahkan Sejawat Kiamat Denpasar untuk menjadi street team. Kita minta tolong mereka untuk memuluskan urusan di Denpasar.
Dan masih banyak contoh menarik lainnya.
3. Kalau kedekatan Trio Kiamat Raya dengan Sejawat Kiamat terjalin amat baik niscaya “mengeluarkan fatwa” (misalnya: Sejawat Kiamat disarankan menolak penggunaan tas plastik), apa pun, biasanya disambut dengan riang lagi tawakal.

Membangun fans club butuh biaya mahal? Ah, bohong. Hare gene, hampir semua bisa dilakukan via internet/digital. Tinggal nongkrong depan komputer atau ponsel, pencet ini pencet itu, udah, beres.
Susah? Duh, jangan cengenglah. Sudah dikasih murah seharusnya kudu bersyukur. Kini tinggal kerelaan kita meluangkan waktu merawat kebersamaan, menyodorkan atensi lebih kepada penggemar. Apa yang mereka mau—asalkan masuk akal—sebisanya dipenuhi. Jika ikhlas berusaha sedemikian ngoyo maka kita sendirilah nantinya yang akan menentukan nasib kita sendiri.

Harus cerdas, harus cermat, sebab digital adalah fundamental!

___________________

*Artikel ini pertama kali tayang di blog Langit Musik pada 20 April 2011
*Artikel ini adalah seri ke-3 dari rangkaian tulisan saya yaitu [1] Tak Ada Gunanya Punya Akun Bejibun dan [2] Propaganda Sederhana Tepat Guna
*Foto di halaman depan dipinjampakai dari first-stop.org, foto di halaman dalam dipinjampakai dari Kirstie Shanley

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *