Luky Annash: 180° dan Bernas

For English version please scroll down

Piano kerap diasosiasikan dengan geliat pop dimana sang biduan doyan bermanis-manis, bersendu-sendu, pilu tersedu-sedu. Luky Annash, tapi, tidak begitu. Ia gunakan piano sebagai panglima, menyeruakkan emosi yang menyala dari tiap denting nada yang ia mainkan. Seperti tampak pada 180°, album perdananya.

Luky yang telah menggeluti piano sejak usia 12 tahun, belakangan memutuskan pergi dari orbit piano klasik sebab dianggap cuma sedikit menyediakan ruang untuk interpretasi. Destinasinya cenderung menuju pada musik rock era 90an macam Nirvana dan Tori Amos dibanding Mozart dan komponis barok sejenis. Dipandangannya, musik kontemporer lebih menyodorkan keleluasaan dalam mengeksplorasi bakat dan keinginannya. Namun baru di tahun 2005 adik dari dua personel The Brandals, Eka dan Rully Annash, ini mulai menjelajah lintas wilayah. Ia menjadi additional keyboardist bagi beberapa kongsi musisi misalnya The Brandals, godmustbecrazy, serta Tika and the Dissidents.

Musik dan aksi panggung Luky Annash pekat merefleksikan padu padan antara ekspresi melankolis, humor dan kegeraman nan provokatif. Pengaruh musikalnya sendiri bak pelangi, tak cuma pianis/penyanyi seperti Tori Amos, Kate Bush, Harry Nilsson dan Jerry Lee Lewis; pula seniman seniwati dari skena eletronik semisal Björk, Baxter dan Apparat; juga komposisi musik untuk film dari Phillip Glass, Patrick Doyle, serta Danny Elfman; hingga yang lebih garang macam PJ Harvey, Slayer dan Motörhead. Semua impak musik tadi tampak menyebar di sebelas lagu 180° yang notabene semuanya ditulisnya sendiri dibantu beberapa sejawat di sejumlah tembang.

Karya debut rilisan Demajors yang diluncurkan pada akhir April 2011 ini banyak mengusung tema sengkarut internal, kisruh domestik di dalam diri sesosok individu. Mulai dari perjuangan menuju kebahagiaan, harga diri yang terkoyak, kekuasaan, keluarga, perkawanan, hingga perasaan dihadapkan pada kematian. Tajuk 180° mewakili alur cerita yang terjadi sepanjang ekspedisi kehidupan tersebut; fenomena di mana kehidupan bisa berubah 180° saat sanggup menerima baik sisi terang mau pun gelapnya.

English version

After playing classical piano since he was as young as 12 years old, Luky Annash ended up going down the 90’s music path rather than sticking to the classical tunes. Nirvana and Tori Amos give him more freedom for interpretation than Mozart and baroque composition where he felt limited.

In 2005, the younger brother of Eka and Rully Annash (The Brandals), made up his mind, and decide to dive in completely in contemporary music and starting to join bands like The Brandals, godmustbecrazy, and Tika and the Dissidents.

Finally in April 2011 he released his debut album called 180° under Demajors in which he talks a lot about life’s adventure how things can be be changed 180° if you are willing to accept both the dark and the bright side. The influence of his favorite artists like Tori Amos, Harry Nilsson, Jerry Lee Lewis, Björk, Apparat, Phillip Glass, Danny Elfman—even Slayer and Motörhead—can be heard on the album.

___________________

*This article was originally published on The Beat (Jakarta) #39, May 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *