Komunal: Gemuruh Musik Tanah Tandus

For English version please scroll down

Pasukan perang dari rawa, Komunal, kembali datang menyerang. Setelah pada 2008 gilang gemilang meluluhlantakkan medan pertempuran heavy metal Nusantara, empat serdadu yang bermukim di Bandung yaitu Doddy Hamson (bersenjatakan vokal), Harry Reza (drum), Anwar Sadat (gitar), dan Arie Khomaini (bas) beberapa pekan silam memberondong publik dengan peluru paling gresnya, Gemuruh Musik Pertiwi.

Dirilis di bawah panji Progresiv Barbar Musik, album ini merupakan terbitan ketiga setelah Panorama (Agustus 2004) dan Hitam Semesta (Januari 2008). Masih berasaskan musik cadas ritme Selatan dan tanah tandus (southern metal/desert rock), dibanding dengan yang sebelumnya komposisi kali ini sedikit memperlambat tempo, artikulasi yang lebih jelas, serta lebih dekat ke rock dibanding metal namun tetap berbobot berat. Selain itu Gemuruh Musik Pertiwi direkam secara live di ArtSound Studio, Jakarta, dan hanya memakan waktu sehari—belum termasuk merekam gitar tambahan serta vokal latar. Selain demi menunjukkan penghambaan kepada heavy metal, kuartet ini pula mengaku bahwa album berisikan 9 tembang ini adalah refleksi penghormatan terhadap band rock legendaris negeri sendiri, God Bless. Komunal ingin mencontek habis apa yang God Bless pernah kreasikan di album brilian Raksasa, utamanya dalam spirit. Sementara itu secara lirik, masih menurut Doddy dkk, mengisahkan betapa menyenangkan bermain musik di dalam institusi bernama Komunal.

“Ini adalah album tanpa harapan, tanpa diragukan karena sudah dipastikan kehebatannya. Selamat menikmati. Heavy metal tetap berkibar,” demikian tutur penutup mereka. Selebihnya, anda bisa simak lebih dekat dinamika mereka lewat www.myspace.com/fromswamp serta www.twitter.com/komunal

English version

The heavy weight quartet from Bandung, Komunal, just released their latest record, Gemuruh Musik Pertiwi. Even though it’s still as heavy as ever, the approach in this third album is slightly different compared to the previous ones. Its roots are a little more rock than metal. Yet it’s not as fast, more mid-tempo, with clearer articulation, meaning you can hear what the vocalist sings about.

According to the band—which is often tagged as one of the best heavy metal collectives in Indonesia—the album was recorded live at ArtSound Studio in Jakarta and only took a day to finish (excluding additional guitar improvisation and backing vocals). It’s also dedicated in honor of the legendary Indonesian rock veterans, God Bless. “In term of spirit, Komunal want to replicate what God Bless did in their magnum opus, Raksasa,” commented the frontman, Doddy Hamson.

Keep yourself informed by visiting them at www.myspace.com/fromswamp and following at www.twitter.com/komunal.

________________________

*This article was firstly published on The Beat (Jakarta) #64, May 14-27, 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *