Kebangkrutan Aksara adalah Kebangkrutan Musik Indonesia?

Bicara dinamika musik di dalam negeri—apakah membaik meingindikasikan kemajuan, semata semenjana alias stagnan, atau malah total kemunduran—tampaknya bisa disimpulkan lewat dua fenomena yang lucunya terjadi di bulan paling akhir 2009, Desember.

Yang paling pertama adalah kabar buruk: Aksara Records memutuskan untuk berhenti beroperasi. Label independen yang menaungi kongsi musisi rancak macam Efek Rumah Kaca, White Shoes & The Couples Company, Sore, The Brandals, dll; serta pernah menerbitkan puluhan album lokal + beberapa manca negara ini menghentikan aktivitasnya karena alasan klasik: kehabisan aliran dana. Aldo Sianturi, pemegang tampuk Managing Director, ketika berbincang bersamanya beberapa waktu lalu, secara implisit pernah menyebut bahwa sejatinya Aksara Records kendalinya sudah oleng bahkan semenjak dia belum bergabung. Usaha keras mantan petinggi di Universal Records Indonesia tersebut nyatanya kemudian nihil membuahkan hasil akibat cedera di Aksara yang telah begitu berat. Apalagi sang pemilik juga menolak mengucurkan subsidi. Opsi yang tersisa bagi usaha rekaman yang telah berpraktek sepanjang enam tahun itu memang tinggal satu: tutup.

Kolapsnya maskapai musik terhormat itu cukup jitu menggambarkan situasi yang sedang menimpa musik Nusantara yang juga sedang terhuyung-huyung. Utamanya penjualan fisik album rekaman. Eksistensi “musisi sejuta kopi” sudah tinggal kenangan. Artis yang mengklaim albumnya laku hingga 420.000 keping adalah Kangen Band via Bintang 14 Hari. Itu pun silam, di tahun 2008. Pada 2009, sanggup ludes puluhan ribu saja sudah dikategorikan ultra luar biasa. Nada Sambung Pribadi (ring back tone) serta Nada Dering (ring tone), yang sempat menjadi tumpuan harapan, belakangan popularitasnya perlahan menurun. Sambutan publik tak segegap gempita seperti di awal kemunculan dan sinarnya terus makin meredup. Penghasilan ekstra dari konser juga—jika si artis masih di peringkat menengah, belum sekelas, katakanlah, Slank—nilai nominalnya masih rendah, jauh dari standard “sehat sejahtera.” Belum lagi, toko kaset dan cakram digital makin menciut jumlahnya. Carut marut ini makin lengkap dengan aktivitas pembajakan yang bukannya berkurang tapi justru meningkat.

Kiamat sudah tinggal sejengkal bagi industri musik Indonesia?  Tidak juga. Sebab di sisi lain pengakuan terhadap eksistensi para musisi Indonesia beserta karyanya malah terus meroket. Utamanya di Asia Tenggara. Artis tanah air merajai jajaran tembang plus memperoleh penghargaan bergengsi di Malaysia bukanlah kisah baru. Tahun demi tahun dijamin pasti ada nama seniman musik Indonesia meraih piala ini dan itu di negeri jiran. Dan yang paling mutakhir, ini kabar sungguh menggembirakan, perhelatan tahunan berskala Asia Tenggara (Indonesia/Malaysia/Singapura/Filipina/Thailand) bertajuk Junksound Awards, Indonesia merebut 9 dari 10 trofi yang dilombakan. The S.I.G.I.T. merupakan grup yang meraih rekognisi terbanyak yaitu Best Pop/Indie Rock Act, Best Live Act serta Album/EP of the Year.


The S.I.G.I.T.

Semoga saja apresiasi sedemikian tinggi mampu mengobarkan semangat lagi menebalkan kepercayaan musisi-musisi dalam negeri agar terus berkarya demi tetap tegaknya kejayaan musik Indonesia.

Keep the faith.

*Tulisan ini pertama kali tayang di majalah The Beat Jakarta edisi Desember 2009

4 thoughts on “Kebangkrutan Aksara adalah Kebangkrutan Musik Indonesia?

  1. Kalo prediksi di tahun 2010 gimana bro?..msh stagnan ato ada perubahan membaik ato malah terjerembab…

  2. sedih juga.. tapi kayaknya semuanya bakal membaik kalo perekonomian juga membaik.. jiwa mengoleksi sebenernya ada di tiap orang.. masalahnya, hasrat untuk mengoleksi itu terpenuhi atau tidak…

    konon katanya, apresiasi terhadap kesenian [termasuk membeli hasil karya seni], otomatis akan muncul ketika semua kebutuhan primer terpenuhi…

    mari berharap yang terbaik..

    salam bung dethu. terimakasih buat alternative airplay sekian tahun silam yang sangat membuka wawasan, mencerahkan. 😀

  3. Industri musik—utamanya di Indonesia—memang sedang menghadapi cobaan yang berat. Semoga bisa tetap hidup—gak usah bermimpi berkibar jayawijaya dulu, yang penting mampu bertahan aja udah syukur—dan sanggup berjalan terus. Memang ultra repot ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa makin sedikit saja orang yang mau membeli album rekaman (kaset dan cd). Sementara membeli secara online bukanlah pilihan populer: infrastrukturnya belum bagus, budaya belanja online belum terlalu memasyarakat akibat berbagai faktor. Jika di luar negeri band masih boleh berharap pada penghasilan dari hasil manggung, di negeri ini, cuman deretan supergroup aja yang sudah mendapat bayaran yang layak. Band-band di bawahnya, sejauh yang saya tahu, belum terlalu bisa mengandalkan duit dari konser. Dibombardir berbagai kendala pahit-kecut sedemikian rupa, musik (yang tak terlalu mengikuti selera pasar) di Indonesia masih bisa bertahan, saya angkat topi. Keep the faith, alterna-warriors!

    Setelah Alternative Airplay (whoa, totally back in the day, dude!) saya sempet bikin lagi Suicide Beat di Radio Plus (berjalan setahunan gitu deh) serta Oz Clash Pistol di Radio Oz (berjalan selama 2 tahun lebih). Kini, saya punya The Block Rockin’ Beats, sebuah acara yang sedikit mirip dengan acara-acara radio saya sebelumnya. Hanya saja kali ini tanpa menggunakan penyiar. Jika anda menyukai Alternative Airplay, I bet you’d like this one, too. Cheers, brotherman!

  4. Anto, so sorry for very late reply. Kalo gue bilang sih industri musik Nusantara di 2010 ini masih bisa bertahan aja udah syukur. Jangan muluk-muluk dah. Nanti seandainya budaya membeli lagu secara online sudah mulai memasyarakat (tentu harus didukung infrastruktur yang bagus juga semisal—salah satunya—sambungan internet yang tak lagi lelet) baru dah bakal muncul sedikit harapan untuk bisa bikin artisnya jadi lebih mapan secara finansial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *