(Instagram-Approved) Audio Visualia Acoustica Exotica


Mari kilas balik sedikit. Tadinya saya hendak menulis catatan ini ketika saya sedang di Bali pertengahan Juli kemarin. Tapi ternyata saat di Bali amat sulit bagi saya untuk membagi waktu antara:
1. Menjadi partisipan seminar. (NB: Saya diundang ke seminar “Bali in Global Asia”—sepanjang 3 hari—dan bertindak sebagai discussant)
2. Bertemu sejawat akrab single malt syndicate. (Yes, Glenfiddich, please.)
3. Minum wiski dengan angkatan yang lebih muda. (Jim Beam Devil’s Cut will do, thanks.)
4. Mengkonsumi minuman beralkohol bukan-wiski (dari Vodka 420 Below, tequila—yang kayaknya substandar karena besoknya kepala saya seperti hendak meledak—hingga, lords have mercy, menenggak arak) atas nama kemaslahatan jejaring perkawanan, baik bisnis maupun non-profit (yang berujung pada pahala finansial dan spiritual).
5. Mengajak jalan/memandikan/memberi makan/menemani tidur dua anjing kecil saya, Vivienne Westwood & Patty Hearst.

Tadinya juga saya hendak mengusung tema yang dekat dengan perubahan, pemberontakan, perlawanan; karena dari seminar yang saya ikuti dan dihadiri para intelektual luar dan dalam negeri yang khusus meneliti Bali (diistilahkan sebagai Baliologist), saya terinspirasi untuk berbuat yang lebih berguna lagi bagi tanah tempat saya dilahirkan. Caranya: mengkritisi apa-apa yang selama ini cenderung disakralkan di Bali. Di saat yang sama juga menawarkan solusi, melakukan perbaikan, merapikan. Sebab cara bermanis-manis sudah terbukti tidak mempan. Bali terlanjur terlena dengan segala puja-puji. Padahal sejatinya makin ke sini makin keropos saja fondasi yang menyangga Bali. Kalau mau menjadikannya kembali cerlang cemerlang, basa-basi harus ditanggalkan, ngomong mesti ofensif, pendekatannya kudu frontal lagi konfrontatif. The clock is ticking. Bali sudah mencret, bukan baru sebatas sakit perut. Pendeknya, emosi saya membara. Playlist saya untuk Occupy Jakartabeat, rencananya, yang bertema mengganggu, menggugah, menggugat, revolusioner, groundbreaking.

Tapi rencana tinggal rencana. Giliran saya memiliki waktu luang, ternyata di hari yang sama saya harus kembali ke Sydney, lokasi dimana saya kini berdomisili. Artinya saya harus berpindah ke Rencana B: Okelah, nanti playlist dikerjakan di Sydney saja di kala akhir pekan (sambil minum wiski! Sendiri! Narkolepsi tapi sarat konsentrasi!). Namun, sekali lagi, ada memang hal-hal yang di luar kekuasaan kita, manusia hanya bisa berencana, tapi wiski yang menentukan. Ketika mulai mengumpulkan materi playlist (seraya minum wiski, tentunya), angkara saya pada nestapanya Indonesia ternyata berangsur sirna. Australia yang tata tentram kerta raharja, cuma dalam hitungan kurang dari seminggu telah digdaya meredupkan nyala api yang tadinya besar berkobar. Saya terlanjur adem. Susah memaksa diri untuk marah. Ah, persetanlah segala persoalan di Nusantara. Selama masih bebal dan anti otokritik serta terus saja menganggap NKRI adalah gemah ripah loh jinawi, masih terlena dengan senandung usang “tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, sudahlah, minta tolong saja sama nasionalisme, Pancasila dan Tuhan. Siapa tahu NKRI masih bisa diselamatkan.

Anyway, to cut a long story short, berujung kemudian pada penjelajahan saya ke YouTube dan menemukan → menyukai → mengagumi → mencintai Soul Kitchen (SK Session), sebuah program musik di Perancis yang menyodorkan opsi (sebagian besar) artis-artis lokal yang notabene kurang familiar bagi kebanyakan orang (terutama saya—yang oleh sebagian lawan jenis kerap dibilang mirip Javier Bardem—ini). Dalam konteks berkesenian dan estetika, yang saya suka dari SK Session adalah pilihan para penampilnya, dari sebanyak 221 video, rata-rata di atas rata-rata. Bicara setting, walaupun cenderung bersahaja, gak neko-neko, si artis cukup duduk di atas tempat tidur hotelnya, atau sekadar nongkrong di trotoar jalan, tapi hasil finalnya bagus banget. Gambarnya indah. Kerap bernuansa pastel. Dipercikkan aksen warna-warna cerah atau ornamen berkarakter kuat di sana-sini (think Instagram). Makin mengagumkan adalah mutu suara yang dihasilkan begitu apik, bersih, jernih. Terutama jika mengingat bahwa pertunjukannya berlangsung live (dan sebagian besar akustik/unplugged). Sepertinya juga kamera yang dipakai bukanlah yang segede godzilla (keliatan di beberapa adegan). Dibandingkan dengan syuting videoklip-videoklip lokal yang sering terkesan kayak mau bikin film sekolosal Ben-Hur tapi hasilnya segitu doang, dengan konsep simple-and-sweet pencapaian SK Session justru luar biasa. Magnifique!

01. Atlas – Hyphen Hyphen
Pemilihan lokasinya memang agak mainstream: Menara Eiffel. Namun band yang ditampilkan konser secara live bukanlah yang tipe elegan atau eksotik tapi justru yang agak-agak avant-garde. Vokalisnya mengingatkan saya pada Alison Moyet (Yazoo) namun yang ini attitude-nya lebih punk rock (pula badannya lebih kurus, tentu saja). Perhatikan juga pengaturan warna oleh pembuat video ini, nyaman dikonsumsi mata serta apik di estetika. Saya cukup yakin bahwa pembuatan video ini tak segawat pembikinan Ben-Hur.

02. Dance Hall – Axel and the Farmers
Ada warna ska-punky khas The Clash di sini. Pun lucu, kedua musisinya, yang satu di suruh bersimpuh, satunya lagi tiduran, lalu dibikin klip. Hasilnya? Saya pikir berani nyodorin ke Channel V untuk dipertunjukkan ke publik global sekali pun.

03. Odile – Nadeah
Ini juga sama, cewek muda ber-attitude punk rock walau musiknya pekat mengarah ke jazz/boogie woogie/rockabilly. Perhatikan nuansa warna yang muncul di sini. Kalau di Instagram bertajuk apa, Toaster? Amaro? Rise?
NB: Ada kejutan Led Zep-esque di penghujung lagu!

04. T’es Gentille – Sam
Harus diakui, saya agak Francophile. Apalagi saat dapetin klip ini, wih, langsung meleleh. Spontan menganggap diri setara elegannya dengan Serge Gainsbourg atau Jean Paul Belmondo.
Jadi mari berdandan rapi, menyemir sepatu, mengangkat dagu ke atas sedikit, bersenandung anggun seraya setengah memicingkan mata menghina terhadap selera dandan NOFX’s Fat Mike …Monsieur Mike, vous devriez poursuivre votre tailleur en justice!

05. The Lake – Divine Paiste
Lokasi syutingnya di bawah jembatan. Orang-orang juga lewat aja, jalan aja, biasa aja business as usual. Ini konsep keren sebab dari situ justru menyeruak kesan hangat, natural, tak ada akting yang dibuat-buat, relatif nihil skena rekayasa.

06. Moving – Y’Akoto
Aduh. Eksotik ini mah. Simak padu padan segala faktor: latar belakang ruangan serta lukisan yang terpajang, warna dan corak baju, tipe musik, ekspresi penyanyi, dengan pewarnaan nan Instagram. Perfect-o.

07. West Coast – The Dodoz
Saya suka lagu ini. (Masuk indie pop ini ya?) Anak-anak muda yang piawai menjaga harmoni. Plus, mungkin mereka lupa bawa tamborin, maka itu segepok kunci dipakai sebagai penggati. Ha. Ace.

08. We & I – Captain Kid
Saat lagu baru mulai, terdengar teriakan-teriakan riang anak kecil. Jika kita tak menonton videonya pasti kita menyangka bahwa teriakan tersebut adalah memang bagian dari lagunya. Padahal kagak. Dan teriakan-teriakan tersebut (ada kicau burung juga!) sayup-sayup masih terdengar sepanjang lagu… So sweet. Hey, George Harrison, you there?

09. Vertige Horizontal – Bertrand Belin
Perancis dan bariton. Ah, soon I’ll be a certified Francophile.

10. Quelqu’un d’autre – La Grande Sophie
Help me God I’m a Francophile.

11. Shy – John & Jehn
Sungguh bersahaja: Di dalam kamar, duduk di atas tempat tidur (nyelip selimut merah!), lampu di pojok dibiarkan menyala, kentara sekali bahwa si pembuat klip ini dominan mengandalkan kehandalan mata dan estetika berkesenian saja. Kameranya hanya menyorot dari pinggang ke atas, pose jarak dekat, dan hasilnya? Hangat. Cuteness dari si penyanyi perempuan jadi kian menonjol (love that scarf, miss!), kedekatan hubungan antara si laki dan perempuan pun termunculkan. Saya geregetan nonton klip ini. *remas testikel sendiri*

12. Into the Snow – Rivkah
Trip hop yang bikin menggigil. Momentum dibangun pelan sampai berujung ekstase. Kesan misterius-lagi-bersaljunya lebih dapet dibanding, er, what’s the title again, “Snow in Sahara” milik Anggun.

13. T.L. – Micky Green
Trip hop metropolitan. Cocok dipakai sebagai soundtrack di kala dini hari di Paris, adegannya di dalam taksi, pulang dari diskotek, kembali ke apartemen, bersama wanita yang baru dikenal karena duduk sebelahan di bar. Dia mengenakan gaun motif macan. Pengharum tubuhnya sepertinya Gucci Guilty. Tanpa berhubungan seks. Hanya minum latte di beranda apartemen. Memandang temaram lampu dan hutan beton. Mengobrol sampai subuh. Dan berjanji bertemu kembali minggu depan. Di diskotek yang sama, lokasi bar yang sama, dan minuman yang sama.

14. I Lost My Lungs – Boogers
Whoa! French version of Beck Hansen! Bahasa Inggrisnya lucuk. Klipnya sederhana namun asyik.

15. King of the West – Cocosuma
Tembang berkecepatan sedang yang menyejukkan. Ada serpihan Blue Ocean di sana-sini.

16. Pop Culture – Creature
Nah, ini syutingnya di beranda apartemen aja. Ruang gerak terbatas tapi terus berdansa dengan bebas! Agiter cette ass!

17. Je N’oublie Pas – Brune
3 hal menarik tapi tak saling berhubungan:
– syutingnya di tengah jalan
– penyanyi ceweknya kayaknya campuran Maroko-Perancis
Je n’oublie pas. Aku tidak lupa. Aku tidak lupa bahwa aku Francophile.

18. Baltasar and the Angel – Budam
Suaranya bagus, agak-agak Tom Waits. Latar belakangnya piano-piano klasik dan jejeran piringan hitam. Tapi kaosnya Atticus. Hmmm… Gak paham padupadan busana! Murtad Belmondo! Dia pasti bukan orang Perancis! (tolong di-Google ya, fren) …But, hey, he’s such an awesome singer!

19. Night and Day – Sarah Blasko
Instagram-approved! Hehe. Anyway, saya suka sekali dengan Sarah Blasko (she’s Australian!). Suaranya jernih, bening, halus. Ketika harus meliukkan suara, pun mudah saja dilakoninya. Mana cantik lagi. Milih baju juga jago. “Packaging yang efektif” kalo istilahnya marketing guru.

20. As Tears Go By – The Rodeo & Exsonvaldes
Versi stripped-down dari lagu klasik milik Rolling Stones. Syahdu sekali. Golden moment-nya adalah ketika si perempuan mulai ikut menimpali dan bernyanyi. Merinding.

21. La Valse – Ben Mazué
Tembang yang sejatinya kalem bisa terasa berenergi galak gara-gara latar belakang tembok merah menyolok.

22. Aqualast – Rover
Lagu yang dari sononya terkesan misterius jadi kian misterius akibat penerangan yang sengaja diatur minim dan menyertakan penggunaan lilin (merah, aksen agresif). Bulu kuduk saya berdiri menyimak tembang ini.

23. Turn Me Off – Le Prince Miiaou
Lagu yang sarat harmoni. Tiap instrumen satu sama lain saling melengkapi (tak sekadar jadi tempelan). Salah satu top 10 favorit saya di playlist ini. (Hush hush, she’s cute, eh? Check out the gold blouse that she’s wearing inside her jacket. She’s surely got great taste. Miaouw.)

24. A Mi-chemin – Hocus Pocus
Hip hop and you don’t stop. It’s jazz rap so watch your step.

25. C’mon Talk – Bernhoft
Hip hip hop you don’t stop. Jazz jazz rap so watch your step. Here comes Blue Blue Note juggernaut.

RUDOLF DETHU
A fading bar-room philosopher and a broken hearted Situationist International.


_________________

Tulisan ini sejatinya adalah kontribusi saya untuk jakartabeat.net dalam memenuhi undangan mengisi program rutin mereka, Occupy Jakartabeat, pada 29 Juli 2012. Versi orisinilnya silakan klik di sini
Foto di halaman depan dan dalam dipinjampakai dari Facebook page resmi dari La Grande Sophie

5 thoughts on “(Instagram-Approved) Audio Visualia Acoustica Exotica

  1. Gara2 anda saya jadi sangat suka SK. Boleh saya repost (tidak semuanya) blog anda? Karena tulisan anda sangat kaya, tujuan saya untuk menyebarkan pesan2 perubahan ke seluruh indonesia. Kabari saya untuk jawabannya mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *