Disodomi Genderuwo

Sejawat Patriot Bahasa Indonesia,

Berikut adalah sebuah tulisan menarik oleh Eric Sasono, seorang kritikus film, yang dimuat di majalah Tempo edisi Maret 2010 silam. Eric, yang juga redaktur www.rumahfilm.org, menelisik isu linguistik, tentang seberapa “tembak langsung” judul film ini: Diperkosa Setan.

Memang, makin ke sini para penggiat film lokal tersimak makin berani. Tak hanya terang-terangan mengajakserta bintang film porno sebagai pemicu atensi—sudah pasti berujung riuh kontroversi—tapi juga blak-blakan di urusan memberi judul sinemanya. Eksotika bahasa, akrobat cantik demi menghasilkan titel yang bernas bahkan beradab bukan lagi menjadi prioritas. Komunikasi, antara pembikin dan penyuka film, cenderung satu arah, nihil basa-basi. Di perkara pemberian tajuk, yang lebih dikedepankan justru sisi sensasi. Jika di masa lalu masih mencoba berimprovisasi cukup sopan lalu menyorongkan sebatas Gairah Malam serta Ranjang Yang Ternoda, kini makin miskin estetika sama sekali. Coba perhatikan: Diperkosa Setan. Bukan mustahil dalam waktu dekat akan kian berani lagi, tiada tedeng aling-aling lagi, bombastis skala paling maksi: Disodomi Genderuwo.

DIPERKOSA SETAN
Eric Sasono

Akhirnya muncul juga judul film seperti judul tulisan di atas ini. Judul ini mengandung sekaligus empat unsur daya tarik dasar sebuah film: kekerasan, seks (pada kata “perkosa”), horor (“setan”), serta kisah fantastis (setan memperkosa). Kisah fantastis—bedakan dengan fantasi—seperti kata kritikus sastra Tzvetzan Todorov (1970), adalah ketika figur supernatural mengambil peran penting dalam mayapada kekisahan yang nyata.

Perpaduan unsur macam ini bisa jadi sudah ditemukan dalam banyak film lain di Indonesia, tetapi memasukkan semuanya sebagai judul tanpa tedeng aling-aling bisa jadi merupakan sebuah fenomena baru. Pada pertengahan dekade 1990, film Indonesia juga pernah punya judul yang langsung pada pokok soal (ketika itu, pokok soalnya adalah seks) seperti Gairah Malam, Limbah Asmara, dan Ranjang Yang Ternoda. Ada dua perbedaan judul film lawas tahun 1990-an itu dengan judul kontemporer macam Tali Pocong Perawan, Suster Keramas, Hantu Binal Jembatan Semanggi, atau Hantu Puncak Datang Bulan (yang akhirnya dipermasalahkan dan kemudian beredar dengan judul lain) atau Diperkosa Setan itu tadi.

Pertama, judul film-film lawas itu kalah dalam soal kelengkapan unsur. Mereka tak punya unsur horor dan fantasi sekaligus, padahal film Gairah Malam, misalnya, tergolong film dengan kisah fantastis, tepatnya film laga. Kedua, film dekade 1990 masih punya lingua poetica; masih ada usaha membuat judul itu lebih artistik. Perhatikan penggunaan kata “asmara” yang merupakan diksi—puitis, atau penggunaan kata sifat—“ternoda” ketimbang kata benda “noda” untuk menimbulkan kesan dramatis: noda itu ada di sana akibat sebuah proses panjang yang terjadi sebelumnya. Bandingkanlah dengan pilihan kata dan frasa yang maknanya lebih denotatif pada film belakangan ini seperti “perawan” atau “datang bulan” dan puncaknya: “diperkosa”.

Coba bayangkan, betapa beratnya usaha membuat orang keluar dari rumah agar mau membeli tiket bioskop dan menghabiskan waktu sekitar dua jam di sana. Maka diambillah jalan pintas dengan membuat judul yang sebisa mungkin membuang “basa-basi” semacam lingua poetica atau aspek artistik lainnya. Bisa jadi judul-judul ini menarik perhatian, tapi belum tentu mengundang penonton. Yang lebih tertarik pada judul itu malahan para agamawan (tepatnya ulama). MUI Samarinda, misalnya, menyatakan kata “keramas” pada judul Suster Keramas mendatangkan konotasi bahwa sang suster itu baru saja “mandi junub” (keramas—dalam bahasa sehari-hari). Seandainya film Hantu Puncak diganti judulnya tanpa kata “datang bulan”, pesan pendek berbau ancaman kepada pengelola bioskop yang akan memutarnya tak akan bermunculan.

Judul memang menentukan. Tapi bukan hanya dalam soal laku-tidak-nya film, melainkan juga sebagai pintu masuk bagi tanggapan terhadap film. Sekalipun film adalah representasi, yaitu rangkaian pilihan bebas para pembuat film dalam menyusun ulang kenyataan, tetap saja film diserap sebagai refleksi, yaitu cermin dari kenyataan. Berdasarkan refleksi ini kita ingat Aa Gym dulu marah lantaran film Buruan Cium Gue ia rasa tak menggambarkan perilaku remaja Indonesia sesungguhnya. Ya memang tidak, karena gambaran remaja di film itu karangan para pembuat film saja.

Inilah sebenarnya jebakan sensasi bahasa yang sedang dihasil-kan oleh sebagian pembuat film lewat judul-judul itu. Kita jadi mencurahkan perhatian buat judul belaka, padahal isinya tak ada apa-apanya dibanding DVD porno bajakan yang ditawarkan di bawah jembatan Glodok, Jakarta, sambil menarik-narik tangan calon pembeli. Artinya, kita sedang membicarakan pepesan kosong, ketika pelanggaran hukum di depan mata dibiarkan, sementara kesalahpahaman lantaran judul bikin kita jadi ancam-mengancam. Sekalipun saya mengerti orang lapar digoda terus-menerus dengan bau pepesan kosong bisa marah, saya tetap merasa bentuk kemarahan dengan ancam-mengancam sedang memajalkan kemampuan kita berdemokrasi.

Ada dampak sensasionalisme ini terhadap kehidupan kita bersama. Dengan ketidakdewasaan bersama yang dimiliki oleh sang penghasil judul maupun yang menerimanya, kita berhadapan dengan kesalahpahaman yang saling dipelihara dan pembangunan wacana yang berjalan makin lama makin berjauhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *