Denpasar: Menjabat Kontra Kultura, Menuju Kosmopolitan

Denpasar kini adalah Denpasar yang (harus) berani. Denpasar mutakhir adalah Denpasar yang (wajib) kaya makna, terbuka, puspawarna.

Ayo kilas balik dulu. Di kala remaja, di pertengahan tahun 80-an, saya adalah termasuk satu di antara banyak anak muda yang minim minat, lesu gairah, paceklik selera, pada so-called “kebudayaan”. Setiap kali bersinggungan dengan kata tersebut, gambar yang instan muncul di kepala adalah sebentuk wujud statis, membosankan, kisah reyot masa lalu, melenceng dari apa yang terjadi sekarang. Alias kuno. Saya—beserta berlimpah anak sebaya lainnya—sebisanya menghindari keterlibatan dengan akitivitas antik non progresif itu.

Sementara Bapak-Ibu guru di sekolah, orang tua di rumah, para petinggi di jajaran pemerintah, pula agresif tanpa jeda beramai-ramai mengingatkan bahwa kita sebagai orang lokal wajib menghargai budaya Bali. Bentuk apresiasi bisa berupa terjun langsung belajar menari/melukis/memahat/dsb. Bisa juga rutin mendatangi tempat semacam Museum Bali untuk mengenal lebih dekat asal-usul tanah kelahiran. Atau minimal bertandang ke acara sejenis Pesta Kesenian Bali menikmati varian kesenian yang dipersembahkan.

Didikte sedemikian rupa, sedemikian ofensif, sebagian dari kita sekadar mengangguk seolah mengiyakan, sebagian langsung melengos tanpa acuh, sebagian lagi frontal bilang ogah. Sebab di realita yang ada saat itu, yang justru gigantik menarik minat anak muda salah satunya adalah fenomena sub kultur bertajuk Rock. Ya musiknya: bising, keras, cepat, berlirik jujur. Ya dandanannya: baju ngepas, rambut jabrik, celana ketat dengan variasi bell bottom (cut bray). Ya falsafahnya: menjunjung kebebasan berpikir, menghargai kemerdekaan berpendapat, mendorong otonomi untuk bertindak menuruti kata hati. Saya dan berjubel sejawat lainnya tanpa dipaksa pun dengan senang hati, ikhlas lagi tawakal, riang ria membuka diri terhadap Rock. Bumbu-bumbu kisah semisal musik ini pernah dilarang, dilabeli “Ngak Ngik Ngok” di era Soekarno; dituduh dekat dengan setan dan kebatilan, didiskreditkan sebagai senandung kaum pecundang, justru menimbulkan rasa keingintahuan nan masif serta, di lain sisi, segala vonis miring kepada eksistensi Rock malah menguatkan rasa persatuan, kesetiakawanan, solidaritas, di antara kita semua.

Rasa ultra suka tersebut jelas tergambarkan lewat aktivitas kita yang tak pernah absen mendatangi konser Rock di mana pun di penjuru Denpasar—bahkan seantero Bali, jika harus. Menonton Harley Angels, Full of Shit, Ayu Laksmi, Roger, dan “pahlawan bumiputra” lainnya, otomatis menjadi menu wajib. Ditambah lagi kegiatan rutin membeli kaset artis dalam dan luar negeri, berburu majalah yang memuat berita tentang perkembangan musik cadas.

Masuk ke kurun 90-an hingga awal tahun 2000, pergerakan sub kultur ini makin berkembang, melebar, menggurita, terbungkus dalam pergerakan bertitel Indie (dari kata “independen”) lengkap dengan paham bernama D.I.Y. (Do It Yourself) yang mengedepankan prinsip swakelola, swadaya, swasembada. Movement yang menginvasi Bali ini tak cuma berupa musik, tapi juga gaya busana nan berbeda dengan trend sebelumnya, dilengkapi “adat istiadat” yang sama sekali baru dari generasi paling hari ini: skateboard, sepeda BMX, surfing, dll.

Pelan tapi pasti, kebiasaan anyar ini posisinya makin solid dan bertransformasi menjadi sebuah kekuatan baru: counter culture, kontra kultura, budaya tandingan. Kedatangan Indie yang menawarkan sesuatu yang amat segar tentu disambut gempita oleh anak muda Bali pada umumnya, dan Denpasar pada utamanya. Hingga kemudian melahirkan satria-satrianya sendiri. Dari bidang musik muncul Superman Is Dead, yang bukan cuma merupakan band asal Bali paling pertama mampu go-national dalam arti sesungguhnya, telah menjadi ikon baru di industri musik Indonesia dengan puluhan ribu penggemarnya dari Aceh sampai Papua, sukses menuntaskan pertunjukan di Australia dan Amerika Serikat, serta disebut sebagai grup Punk Rock terbesar di tanah air. Berikutnya The Hydrant, pelopor genre Rockabilly di Nusantara, memiliki fans fanatik di banyak metropolitan di negara ini, gemilang mencengangkan penonton di 3 negara berbeda: Austria, Ceko, dan Slowakia. Lalu Navicula. Pamornya tinggi sekali, disebut sebagai grup pengusung Grunge termahsyur setanah air. Plus, akibat konsistensinya memperjuangkan kehijauan lingkungan, biduannya dipilih oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sebagai duta Tsunami.

Kemudian dari aspek fashion terdapat Suicide Glam. Sebuah merek lokal berpusat di Renon, Denpasar, yang berjaya menyebarkan koleksinya ke berbagai penjuru dunia, dan bahkan secara waralaba sanggup membuka cabang di Jerman dan Australia. Fenomena yang sungguh menarik, karena biasanya orang Indonesia yang menjadi franchisee merek luar negeri, ini malah sebaliknya: orang luar minta menjadi terwaralaba. Ha.

Yang signifikan untuk dicatat pula adalah ketika Forrest Club, partner Suicide Glam—lokasinya berdampingan satu sama lain—yang berjualan kopi dan makanan kecil, kafe beserta halaman parkirnya berevolusi menjadi ruang kongkow-kongkow penggiat ideologi Indie. Bedah buku, pergelaran musik, pameran karya seni, diskusi, serbaneka perspektif non-konvensional terakomodasi dengan baik di Forrest Club. Sub kultur, budaya tandingan, peradaban urban, apa pun istilahnya, bak mendapat rumah teduh lagi nyaman.

Dan masih banyak dedengkot lain yang belum disebut. Namun yang jelas, fenomena Rock kemudian Indie ini jika dipahami secara dangkal memang seolah nihil keterkaitan dengan eksistensi budaya Bali. Kalau dimaknai via permukaan saja terkesan sepi apresiasi kepada kultur Bali. Bisa jadi benar. Bisa jadi kurang tepat. Namun titik persoalannya bukan di situ. Ini soal strategi pendekatan ke anak muda agar lebih menghargai kearifan lokal serta berimplikasi pada menipisnya anggapan bahwa “kebudayaan” adalah entitas menjenuhkan, lamban, old-fashioned. Pihak-pihak penentu kebijakan mesti makin membuka ruang lebih lebar dan mengakomodasi lebih luas sub kultur ini. Sebab pada kenyataannya budaya tandingan ini mampu berkibar, kukuh diidolakan, ijo royo-royo, padahal minim campur tangan negara. Sihir kontra kultura yang begitu kuat membius kaum belia sejatinya bisa digunakan sebagai jalan masuk baik oleh pemerintah maupun patriot Budaya Bali. Dengan merangkul mereka, menjabat tangan mereka, maka penetrasi pemikiran tentang seberapa adiluhungnya Budaya Bali bisa pelan-pelan disisipkan dengan halus, bersahabat, minus kesan menggurui. Sebab cara pendekatan feodalistik, pengedepanan asas senioritas, anjuran berbau pemaksaan, terbukti tak efektif. Yang muncul justru resistensi. Para remaja menolak mengikuti instruksi, lalu memilih suri tauladannya sendiri.

Approach masa kini yang pro-anak muda ini sejatinya secara tanpa sadar telah dipraktekkan dengan baik—dan relatif sukses besar—oleh, sekadar menyebut contoh, para pegiat sub kultur di Forrest Club. Setiap kali membikin acara di tempat ini hampir selalu ditanggapi dengan antusiasme berkobar. Bahkan acara sekelas Chromatic Forest pada Juli 2009 silam yang menampilkan seniman lintas negeri (Kroasia, Singapura, Thailand, Bali sebagai tuan rumah) dengan riuh pertunjukan seni kontemporer—dari band garda depan hingga puisi elektronik—yang notabene bukan merupakan jenis yang mudah dicerna, sulit dimengerti orang kebanyakan, tetap saja memperoleh atensi luar biasa. Umat sub kultur tampaknya sengaja menafikan kebingungan mereka terhadap apa yang akan diperoleh di Chromatic Forest. Mereka sepertinya sejak awal telah membebaskan dirinya dari praduga. Yang mereka bawa cuma rasa percaya pada kawan-kawan penyelenggara acara. Mereka ingin diasosiasikan sebagai bagian integral dari skena Forrest Club. Apa pun yang kemudian muncul di hadapan, puisi mbeling, musik planet Mars, bahasa antah berantah, respons yang diberikan biasanya positif. Atau minimal berujar, “Belum mengerti, tapi menarik buat dipelajari…”

Contoh faktual kedua, di pertengahan 2009, beberapa pekan sebelum keberangkatannya ke Eropa Timur, para personel The Hydrant diberikan kesempatan berjumpa langsung dengan Walikota Denpasar. IB Rai Dharma Wijaya Mantra berkeinginan memberi selamat serta memberi sedikit bantuan kepada mereka. Yang lebih hakiki di sini bukanlah soal nominal yang didapat. Faktor esensial di sini adalah bersedianya sang pemimpin region menemui anak-anak muda itu. Warga Denpasar yang selama ini menganggap dirinya kurang terakomodasi, instan berubah sudut pandang sejenak setelah menerima undangan silaturahmi dengan Walikota. Bagi mereka manuver tersebut sungguh impresif. Efeknya segera terasa saat Wis dkk berada di Wina, Praha, & Zagreb. Atas inisiatif sendiri, tiap kali selesai pentas mereka bergerak menyebarkan brosur tentang Bali, bersemangat bercerita tentang kota kelahiran yang dicintainya, Denpasar. Whoa.

Acara bincang santai antara Walikota Denpasar beberapa bulan berikutnya dengan Komunitas Kreatif Bali yang dihadiri wakil-wakil seniman (dominan dari ranah sub kultur, hadir antara lain Superman Is Dead, The Hydrant, Navicula mewakili kelompok musik; videografer, desainer grafis, penulis blog, dj, dsb) pun boleh dibilang cukup berhasil menjungkirbalikkan anggapan kaku yang kerap disematkan terhadap pemerintah. Artinya rasa percaya kerabat kontra kultura pelan tapi pasti mulai terbangun.

Dan yang paling aktual: Ebullience. Gerak pemerintah kota yang miskin campur tangan, sekadar memfasilitasi, serta membiarkan para seniman berbakat Denpasar—yang didominasi anak muda—membentuk kongsi dan menelurkan ide liarnya sendiri, adalah merupakan sebuah langkah cerdik pula progresif. Pembebasan kongregasi artis dari berbagai disiplin kesenian, tradisional mau pun modern/sub kultur, untuk menjelmakan instalasi dalam merespons tema Denpasar Festival, Embracing Tomorrow atau “Menuju Masa Depan Gemilang”, sungguh sebuah aksi pemerintah kota nan membesarkan hati. Utamanya bagi pelaku peradaban urban. Keberadaan kultur masa kini yang sering dicap “nihil merepresentasikan budaya Bali” ini serasa diberi perhatian, dihargai sepatutnya.

Apalagi jika mau membuka mata lebih lebar, rela membuka hati pada realita, instalasi berjudul Ebullience ini secara kasat mata hampa nuansa Bali. Artinya kecenderungan yang terjadi pada seniman-seniman berbakat Denpasar sekarang lebih kuat unsur modernnya. Namun jika ditilik lebih dalam, konfigurasi Ebullience sejatinya pekat konsep Budaya Bali. Bentuknya yang bak bahtera mengalur fleksibel dengan geladak belakang (arah Timur) yang terbuka dan geladak depan (arah Barat), menonjolkan sebuah silinder bagai sebuah periskop, jika mau dijalinkan dengan kearifan lokal, konstelasi Timur dan Barat merepresentasikan siklus kehidupan, Makara Candraditya, asmara kekal antara kehangatan cahaya Matahari dengan kelembutan sinar rembulan. Belum lagi kalau dihubungkan dengan imaji ruang dan waktu (Asta Bumi dan Atitanagatawartamana) kehadirannya di tengah-tengah alun-alun kota Denpasar menegaskan dimensi sakral -sekuler yang amat dipercaya di Bali.

Sekali lagi, menyediakan ruang untuk sub kultur, mempersilakan kontra kultura hidup berdampingan dengan Budaya Bali, memberi porsi yang adil antara peradaban urban dengan adat kebiasaan setempat, akan menimbulkan efek saling menghargai. Sudut pandang generasi muda—ingat, jumlah mereka jangan dipandang sebelah mata—yang selama ini menganggap Budaya Bali sebagai sosok statis, reyot, membosankan, lebih gampang direjuvenasi jika pemerintah tulus membuka hati bagi tumbuhkembangnya budaya a la mereka sendiri. Yang penting tumbuhkan dulu rasa percaya mereka. Tumbangkan segera persepsi awak negara = kaku, tambun, stagnan.

Ebullience sudah tepat. Sub kulturis mesti diajak berjabat erat. Denpasar harus ramah multi kultural. Sebab Denpasar masa depan adalah Denpasar nan kosmopolitan.

RUDOLF DETHU
Pengamat Sub Kultur

There are only two ways to live your life.
One is as though nothing is a miracle.
The other is as though everything is a miracle
~ Albert Einstein

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *