cogitaINTIMA: Blantika | Linimasa

Halaman: 111
Penerbit: matamera book (2011)
Bahasa: Indonesia
ISBN: 978-602-19560-0-7

“Ini dokumentasiku. Mana dokumentasimu?!” Demikian Rudolf Dethu berseru dengan angkuh, dalam bukunya yang berjudul “BLANTIKA | LINIMASA: Kaleidoskop Musik Non-Trad Bali”. Barangkali, sambil menenggak segelas Jim Beam.

Tapi ada benarnya juga. Dokumentasi musik Indonesia memang sangat minim, jika tidak mau disebut nyaris nihil. Bangsa ini, yang belakangan semakin kelihatan cerewet di ranah media sosial, ternyata masih terus mewarisi kebodohan nenek moyangnya: enggan menuliskan sejarah. Padahal, seperti yang juga ditulis Rudolf Dethu dalam buku ini, sejarah milik orang yang menulis.

Dalam 111 halamannya, “Blantika | Linimasa” mengisahkan perjalanan musik non-tradisional Bali periode 1960-2000. Lengkap tertuang di dalamnya adalah kisah perubahan corak musik yang digemari masyarakat Bali, pergantian musisi yang jadi idola di setiap era, dan bagaimana insan bisnis musik Bali menyikapi itu semua.

Sangat menarik, setidaknya bagi saya yang memang buta soal sejarah musik Bali (bukan berarti saya tidak sama butanya soal sejarah musik Indonesia), membaca bahwa orang Bali ternyata sangat menggemari musik pop Mandarin yang mendayu-dayu. Tak kurang dari dua dekade lamanya, dari awal ’80-an hingga akhir ’90-an musik Bali dikuasai oleh dua sosok penting pengusung aliran ini: Yong Sagita dan Widi Widiana.

Sampai kemudian hadir Lolot, band rock yang menyanyikan lagu-lagu keras berbahasa Bali…

Rupanya generasi muda Bali, yang kala itu menginjak usia remaja yang penuh pemberontakan, dan tentu saja sudah demikian banyak bergesekan dengan budaya Barat yang dibawa oleh turis, merasa Lolot memainkan sound yang mereka inginkan. Mereka mendapat idola baru, yang jauh berbeda dari idola para orang tuanya.

Bagi generasi muda Bali kala itu, musik Lolot yang keras dan blak-blakan jelas lebih keren ketimbang Yong Sagita ataupun Widi Widiana yang mengharu biru.

Diceritakan juga bagaimana kemudian metal (dengan berbagai sub-genre yang untuk membedakan satu dengan lainnya itu dibutuhkan IQ yang tinggi), punk (dengan jagoannya yang sekarang jadi ikon nasional: Superman is Dead), grunge (dengan Navicula sebagai perwakilan, yang kebetulan vokalisnya juga menjadi penulis dalam buku ini), dan segala macam aliran musik keras lainnya turut berkembang di Bali. Tidak hanya di panggung-panggung underground, melainkan juga di panggung-panggung besar tingkat propinsi dan televisi lokal.

Bahkan penjualan album aliran musik itu pun boleh dikata luar biasa! Tentu saja, sebelum hadirnya era digital di pertengahan 2000-an yang merupakan surga bagi fans musik brengsek yang cinta produk-produk bajakan berharga murah, atau malah gratis.

Bom Bali, studio dan produser mumpuni, hingga cafe-cafe legendaris (diantaranya adalah Kayu Api) tempat musik Bali mendapatkan energi kreatif tingkat internasionalnya, semua mendapatkan porsi yang cukup dalam buku ini. Semua ditulis dengan ringkas dan cukup enak dibaca.

Benarlah kiranya tagline buku ini yang semula saya kira hanyalah gurauan orang mabuk: “Sejak lahir – tumbuh kembang – berdiri – pingsan – berdiri lagi – menolak mati”.

Rupanya memang begitulah perkembangan musik non-tradisional di Bali. Dinamis. Tak henti berubah bentuk, mengikuti perkembangan jaman.

Semoga saja tidak muncul tagline lanjutan dikemudian hari yang berbunyi: “… – akhirnya mati beneran!”

Catatan: buku ini bisa dibeli dengan menghubungi langsung akun @rudolfdethu via Twitter

*Artikel ini dipinjam—dengan segala hormat—dari blog berikut: http://cogitaintima.blogspot.com/2012/01/blantika-linimasa.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *