ANUGERAH MUSIK BALI: PUNCAK DIGDAYA SKENA PULAU DEWATA

Pengumuman Pemenang Album Terbaik | Foto: Anugerah Musik Bali

Bali kembali berulah, membuktikan diri sebagai sosok yang walau kecil namun begitu kuat sekaligus berbahaya. Jagat berkesenian Nusantara diguncang lagi lewat Anugerah Musik Bali, versi bumiputra dari Grammy Awards.

Senin silam, 18 Februari 2019, duhai malam nan bersejarah. Baik bagi skena musik Tanah Dewata sendiri, maupun untuk kancah serenada Indonesia. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya ajang macam begini diselenggarakan dari/untuk/oleh daerah, hanya menyasar musik lokal, jangkauannya terbatas, bukan mencakup seluruh negeri, non-nasional.

Sepertinya belum ada wilayah lain di Indonesia yang berani melakukan hal senada. Baru Bali yang bernyali. Artinya Bali punya rasa percaya diri besar bahwa sudah pantas dilaksanakan. Karena memang secara de facto belantika musiknya dinamis, produknya berlimpah beredar, infrastruktur mendukung, pun prestasinya terbilang menjulang. Memang, belakangan di Pulau Seribu Pura aktivitas yang berkaitan dengan musik hidup sungguh hidup. Di luar pertunjukan musik Top 40 yang bertebaran di seluruh penjuru Bali dan berlangsung tujuh kali seminggu, juga skena indienya ijo royo-royo. Di Timur Denpasar ada Rumah Sanur. Di Barat ada Twice dan Orchard Bar. Di Utara ada Setel Peleng. Di ujung Selatan ada Single Fin. Konser terselenggara nyaris tiap malam. Para musisi yang beraksi kebanyakan tampil membawakan lagu-lagunya sendiri. Dan mereka mutunya umumnya baik. Sebagian darinya mencuat di jagat musik nasional. Selain pemain lama macam Superman Is Dead, Navicula, dan The Hydrant, kini menyusul Nosstress, Zat Kimia, Sandrayati Fay, Leanna Rachel, Rollfast, Jangar, Scared of Bums, Manja, dsb.

Andrew Barrett | Foto: Semestamaya

Kesiapan di semua aspek tersebutlah yang membuat pegiat musik Gede Bagus, wartawan senior Made Adnyana, produser Dhani Chaniago, music director radio Wibi Nugraha, pebisnis media Putera Mahardika mantap menggulirkan Anugerah Musik Bali

“Bermula sekitar setahun yang lalu, Gede Bagus mengajak saya bertemu, tanya-tanya tentang penyelenggaraan penganugerahan penghargaan musik. Dia pernah mendengar saya sempat membidani Gita DenPost Award pertama kali 2001-2005, juga Malam Apresiasi Musik Bali 2008-2009,” Adnyana berkisah, “Intinya Gede tanya-tanya tentang penyelenggaraan acara secara teknis dan idealisme, lalu mengajak saya untuk ‘membangkitkan’ kembali, menggelar acara serupa. Terus terang saya merasa sudah tua dan berniat berhenti membuat acara seperti ini. Tapi beberapa kali pertemuan Gede Bagus meyakinkan saya untuk membuat sesuatu yang baru dan beda. Setelah saya katakan kalau begitu bikin saja komite, nanti saya support dari balik layar saja. Setelah sempat lama tak ada kontak, Agustus 2018, akhirnya Gede sendiri yang kemudian mengatakan ‘tim’ sudah siap. Bertemulah kami berlima, dan saya didaulat untuk masuk ke dalam komite.”

Ya, sejatinya Made Adnyana kala masih membawahi rubrik kesenian di koran Denpost pernah membuat ajang bertema apresiasi yaitu Gita Denpost Award yang mengkhusus pada karya musik berbahasa Bali. Lalu berlanjut dengan Malam Apresiasi Musik Bali yang mulai menjangkau karya musik non-Bahasa Bali/indie. Namun baru di Anugerah Musik Bali ini Adnyana dan rekan-rekannya sepakat untuk mendampingkan cukup sejajar antara artis Bali non-Bahasa Bali/indie (kita sebut saja Balinesia) dengan artis Bali berbahasa Bali (Balibali). Semisal nominasi Album Terbaik diucapkan pertama, berikutnya disambung dengan penyebutan Album Berbahasa Bali Terbaik, Penyanyi Solo Terbaik lalu diikuti Penyanyi Solo Berbahasa Bali Terbaik, demikian seterusnya. Begitu pula dengan sosok pembaca nominasi, dibaurkan antara musisi Balinesia dengan Balibali. Penggebuk drum Superman Is Dead, JRX, berbagi mikrofon membacakan nama pemenang dengan biduan veteran Balibali Bayu KW. Kiat seperti ini jitu menerabas hierarki siapa elu siapa gue, bahwa artis Balinesia stratanya lebih adiluhung dibanding Balibali. Pun suasana di gedung Ksirarnawa, lokasi acara, tampak cair dan hangat. Satu sama lain saling menyapa dengan ramah, bersalaman-berpelukan, celotehan riang cekikikan mewarnai ruangan sepanjang acara berlangsung.  

Robi Navicula, | Foto: Semestamaya
Alien Child | Foto: Semestamaya

Dari sekian banyak calon penerima penghargaan yang disebutkan, ada dwi dominasi. Paling pertama adalah pendatang baru yang sedang jadi buah bibir di skena musik Bali karena bakatnya yang luar biasa, Alien Child. Berikutnya Navicula, paguyuban musisi veteran yang telah lantang berteriak soal lingkungan jauh sebelum aksi membela bumi menjadi tren dan dianggap seksi.

Keduanya masuk nominasi di banyak sekali kategori lalu berlimpah memenanginya.

Tentang Navicula, barangkali tak perlu bejibun basa-basi, publik Nusantara mayoritas telah mahfum apa-siapa-kenapa kuartet ini begitu dihormati. Matang pengalaman, lirik yang bernas, kemampuan bermusik nan sakti mandraguna, kepedulian gigantik pada keadilan sosial, kepribadian hangat, pokoknya nyaris sempurna alias memang pantas diberi respek lebih.

Bicara Alien Child sama dengan bicara keajaiban. Kakak-adik Aya dan Laras yang menghabiskan masa kecilnya di Vancouver, Kanada, relatif belum terlalu lama wira-wiri di skena berkesenian Bali. Namun saking menonjol talenta duo remaja yang baru lewat akil balik ini—mutu bersenandung sungguh istimewa, menulis lirik duh-gusti brilian, mencipta lagu yang nyaman didengar kuping—segera saja menggaet perhatian publik. Tawaran manggung kian sering, lagu-lagunya makin jadi favorit, pula barisan aliens—julukan untuk penggemarnya—mulai pesat bertumbuh.

Anggis Devaki dan The Hydrant | Foto: Anugerah Musik Bali

“Acara apresiasi terhadap pelaku musik seperti ini sangat penting diadakan secara reguler di Bali, karena bisa memotivasi skena dan industri, termasuk orang lama dan baru. Di samping itu skena musik di Bali cukup pesat bertumbuh dengan ekosistem yang cukup unik untuk Indonesia. 

Harus ada wadah yang bisa mengekspos keanekaragaman di skena ini.  Produk-produk dari hasil ekosistem musik yang unik, yaitu perpaduan adat dan budaya tradisional yang masih lestari, berpadu dengan keterbukaan berpikir dan pengaruh Internasional yang masuk di Bali,” komentar yang berbau dukungan oleh Robi Navicula terhadap Anugerah Musik Bali.

Sementara Alien Child masih emosional dengan jaya wijayanya mereka di Anugerah Musik Bali. 

Laras semringah berucap, “We still can’t believe it… it feels so unreal. producing this album was a huge learning experience for us and we learned so much about ourselves and what we are capable of creating with the simplest of tools. We’re so grateful to the AMB committee for nominating us. The night of the award show was truly unforgettable—getting to see other musicians and their art thrive was incredible.”

I feel like a huge mark has been made in the Balinese music industry. winning this award as the only female nominee gives me so much hope, hope that other female musicians will gain more respect and recognition for their work and be given more opportunities to explore their craft and to express themselves without boundaries,” Aya menambahkan.

Day After The Rain | Foto: Semestamaya.

Walau cukup terkendala di isu klasik: dana, serta seciprat dua ciprat protes yang menuduh bahwa Anugerah Musik Bali kurang patut mengklaim sebagai representasi Bali sepenuhnya, para anggota komite telah yakin bakal menggelar edisi berikutnya. 

“AMB akan ada lagi tahun depan. Seperti tekad semula komite menggelar acara ini sebagai bentuk nyata kontribusi untuk turut menggairahkan musik dan industri rekaman di Bali, juga sebagai wadah bagi musisi untuk menunjukkan karya terbaik mereka. Sangat sayang kalau fondasi yang telah dibangun di AMB pertama harus ditinggalkan hanya karena problem susahnya menggalang dana maupun menghadapi protes ketidakpuasan segelintir orang. Kenapa optimistis, karena berdasarkan pengalaman saya menangani ajang serupa lebih dari satu dekade lalu, acara award rutin tahunan paling tidak pada penyelenggaraan ketiga baru bisa settled. Jadi gelaran pertama untuk meletakkan fondasi, gelaran kedua perbaikan demi perbaikan. Maka melihat respons para musisi yang semangat berkarya dan merilis rekaman baru menjelang penutupan submit, juga pasca acara, sangat optimistis penyelenggaraan selanjutnya akan ada dan akan lebih baik lagi. Hemat saya, jika mau melihat apakah AMB akan benar-benar berhasil dan bisa terus berlanjut, akan terjawab setelah gelaran ke-3. Tetap optimistis!” terang Adnyana dengan penuh semangat.

Sampai jumpa tahun depan! … Oh, bagaimana dengan daerah lain di Indonesia? Ada rencana membuatnya juga? 

Daftar Lengkap Nominasi dan Pemenangnya.

Album Berbahasa Bali Terbaik: Gelandangan (Made Gimbal).
Album Terbaik: Earthship (Navicula).
Lagu Berbahasa Bali Terbaik: Ketut Dalam Proses (cipt. D’Go Vaspa, penyanyi: D’Go Vaspa).
Lagu Terbaik: Indonesia (cipt. Octav Sicilia, penyanyi: Antrabez).
Lagu Berbahasa Bali Terfavorit: Sehidup Semati (cipt. Dewa Krisna & Rusmina, penyanyi: Harmonia feat. Rusmina Dewi).
Lagu Terfavorit: Cinta Terbalas Nanti (cipt. Tama Wicitra, penyanyi: Anggis Devaki).
Penyanyi Solo Berbahasa Bali Terbaik: D’Go Vaspa.
Penyanyi Solo Terbaik: Gede Robi.
Band/Duo/Grup Berbahasa Bali Terbaik: Widi Widiana dan Dek Ulik.
Band/Duo/Grup Terbaik: Antrabez.
Band/Grup Rock Terbaik: Navicula.
Pendatang Baru Terbaik: Alien Child.
Penyanyi Anak Terbaik : Andrew Barrett.
Music Video of the Year: Ibu (Navicula), Sutradara Ayu Pamungkas, produksi Silur Barong.
Penata Musik Terbaik: Aya Maranda (album Take Off, Alien Child).
Musik Kontemporer Terbaik: Kroncong Jancuk.
Venue of the Year : Stel Peleng.
Artis Nasional Terfavorit: Sheila on 7.
Lifetime Achievement Award: Jimmy Silaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *