Altamont Speedway Free Festival

Bagi rekan-rekan yang telah lanjut usia—30 tahun ke atas, atau penggemar fanatik The Rolling Stones, atau punya ketertarikan gigantik pada so-called “Sex, Drugs and Rock & Roll”—pasti pernah menonton film dokumenter Gimme Shelter atau minimal sempat mendengar kisah legendaris tentang konser gratis pada 6 Desember 1969 di Altamont Speedway, California, Amerika Serikat.

Tonton trailer-nya di sini

Pertunjukan tanpa tiket—lebih populer dengan tajuk Altamont Free Concert—yang menghadirkan nama-nama besar macam Santana, Jefferson Airplane, The Flying Burrito Brothers, The Grateful Dead, Crosby, Stills, Nash, and Young; serta Mick Jagger & co. sebagai penampil utama itu bukan saja mampu mengundang hingga 300 ribu orang untuk datang, seraya menyisipkan sisi tak terduga: 4 bayi dikabarkan lahir di arena konser, pula menyertakan sisi kelam: 2 orang tewas akibat kecelakaan bermotor, 1 orang tenggelam, dan—ini dia—1 orang terbunuh. Mari menyimak lebih jauh soal apa/siapa/kenapa sampai terjadi huru-hara berujung maut.

Tadinya pagelaran ini hendak diselenggarakan di Golden Gate Park di San Fransisco, namun karena alasan perijinan kemudian pindah ke Sears Point Raceway, mentok lagi, hingga akhirnya disepakati memakai Altamont Raceway. Hari dan tanggal penyelenggaraan: Sabtu, 6 Desember 1969. Dan—menurut sebuah versi—atas rekomendasi The Grateful Dead, geng motor Hell’s Angels dipakai sebagai tenaga keamanan. Dengan koordinator lapangan Ralph “Sonny” Barger, ketua Hell’s Angels cabang Oakland. Bayarannya? Barter segunung bir senilai 500 Dollar Amerika Serikat. Beberapa orang memberikan versi sama sekali berbeda, terutama Sam Cutler, road manager The Rolling Stones. Ia menolak anggapan bahwa Hell’s Angels memang disewa sebagai satuan pengaman.

The only agreement there ever was… the Angels would make sure nobody tampered with the generators, but that was the extent of it. But there was no ‘They’re going to be the police force’ or anything like that. That’s all bollocks

Pada pra dan masa awal, situasi aman terkendali, konser berjalan relatif damai (thanks to booze, LSD, and amphetamine). Penonton, yang hampir seluruhnya hippies, bergembira—tepatnya “high”—menikmati ajang musik cuma cuma tersebut. Sementara di seberangnya gerombolan Hell’s Angels menikmati suguhan bir bebas beanya. Di pertengahan, suasana berangsur memburuk. Tensi mendaki naik, berubah panas. Mabuk, giting, halusinasi, paranoid, overdosis, campur aduk jadi satu. Penonton—sebagian membawa mawar merah, asli hippies abis—dan Hell’s Angels yang sebelumnya tata-tentram-kerta-raharja, riang ria dan protagonis, beralih menjadi buruk rupa dan antagonis. Mulai terjadi pertengkaran kecil dan sporadis antar satu sama lain. Keributan besar meledak ketika Denise Jewkes, personel band asal San Fransicso, Ace of Cups, yang saat itu sedang hamil 6 bulan, terjengkang dan mengalami gegar otak akibat terkena lemparan botol bir. Kondisi instan carut marut. Hell’s Angels merangsek penonton agar mundur agak menjauh dari panggung yang tak cukup tinggi untuk konser semasif itu. Dilanjutkan dengan munculnya seorang wanita tambun telanjang bulat dari barisan penonton mendesak memaksa maju mendekati panggung, menyenggol dan mendaki apa pun yang menghalanginya. Hell’s Angels naik pitam dan menghajarnya hingga pingsan. Hell’s Angels makin membabi buta mengerasi siapa saja saat salah satu motor mereka yang ditempatkan di depan panggung dijatuhkan oleh penonton. Marty Balin, anggota Jefferson Airplane, yang notabene adalah salah satu pengisi acara pun tak luput dari penganiayaan. Dia ditinju hingga semaput oleh satu dari awak Hell’s Angels. The Grateful Dead, yang dijadwalkan main setelah Crosby, Stills, Nash, and Young; merespons anarki ini dengan spontan meninggalkan arena dan membatalkan penampilannya.

Ketika Rolling Stones sebagai penampil terakhir mendapat giliran beraksi, Altamont bak paceklik positivitas. 3000-4000 orang terdesak ke bibir panggung. Banyak di antaranya yang berusaha naik ke panggung mencoba membebaskan diri dari iklim nan non kondusif tersebut. Mick Jagger, biduan The Rolling Stones, berusaha sedikit meredakan kekacauan, dengan tanpa jeda menyerukan agar penonton tak saling dorong, “Just be cool down in the front there, don’t push around.” Masuk tembang ke-3, “Sympathy for the Devil”, keributan terjadi lagi. Berhenti sebentar, atraksi dilanjutkan kembali. Sampai lagu nomor enam pementasan berjalan lumayan aman. Klimaks huru-hara pecah tatkala “Under My Thumb” baru saja dikumandangkan. Meredith Hunter, pria muda berusia 18 tahun, bergerak mendekati panggung walau—menurut kisah Porter Bibb, produser Gimme Shelter—sang pacar, Patty Bredahoff, merajuk memohon-mohon agar ia tetap tinggal di tempat. Meredith Hunter—dalam tayangan video pertama, In Defense of the Hell’s Angels (lihat di bawah, menggunakan jaket hijau)—yang notabene sedang “on” berat akibat methamphetamine dan berjalan duhai sempoyongan, terus saja maju ke depan. Tiba-tiba Meredith mengeluarkan revolver dari saku jaketnya. Patty lalu berusaha merampasnya. Khalayak yang berada di dekatnya otomatis ketakutan dan berusaha menjauhi. Alan Passaro, anggota Hell’s Angels yang kebetulan sedang di sekitar TKP segera melesat menghampiri, mencabut belati, dan menghujamkannya hingga 5 kali ke tubuh Meredith. Meredith langsung meregang nyawa, menghembuskan nafas terakhir (sebagian saksi mengatakan bahwa saat Meredith terjungkal ke tanah, kerabat Hell’s Angels yang lain beramai-ramai menzaliminya pula). Meredith Hunter konon hendak membidikkan pistol ke Mick Jagger semata gara-gara cemburu karena sepanjang pertunjukan sang pacar terus-terusan bilang naksir Mick Jagger. Akibat perbuatannya Alan Passaro langsung ditangkap dan diinterogasi. Belakangan Alan Passaro dibebaskan setelah sebuah rekaman video mustajab membuktikan bahwa tindakan Alan Passaro sekadar mempertahankan diri.

Kerusuhan yang terjadi tak begitu disadari oleh The Rolling Stones, mereka hanya menonton dari atas panggung, bingung, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi. Tak lama kemudian kontingen asal Inggris tersebut melanjutkan penampilannya sampai kelar 15 lagu. Di lain kesempatan Ralph “Sonny” Barger mengklaim bahwa The Rolling Stones bersedia meneruskan karena Sonny menyodorkan pistol ke Keith Richards serta mengancam akan membinasakannya jika sampai berani menyetop pertunjukan.

You keep fuckin’ playing or you’re dead


Simak bagaimana Meredith Hunter dihujam belati di sini

No thanks to booze, LSD, and methamphetamine.

__________________

Simak juga video di bawah, terutama perhatikan bagian akhir, seorang wanita berbadan lebar tanpa busana memaksa naik ke panggung

Nikmati filmnya di sini

*Artikel ini sudah sedikit direvisi, pertama kali saya publikasikan di Musikator pada 8 April 2009

One thought on “Altamont Speedway Free Festival

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *