Adib Hidayat: Bromancing the Stone

Salatiga, pada khususnya, setelah Arief Budiman, Roy Marten, Rudy Salam, Kurniawan Dwi Yulianto, Bambang Pamungkas, dan Bre Redana, kini punya suri tauladan baru: Adib Hidayat. Musik Indonesia, pada umumnya, jadi makin berwarna dan harkatnya, pelan namun pasti, terus terdongkrak naik ketika Adib Hidayat masuk menengahi.

Saya pribadi mengenal ayah dari Jemima dan Jasmeena ini saat dia masih meniti karir sebagai editor musik di majalah Gadis. Saya mendapat kesan yang ultra positif bin impresif dari perkenalan pertama itu. Mulai dari gesturnya yang hangat—1×24 jam selalu tersenyum, dan pengetahuannya yang luas soal musik. Any music. Saya ingat benar waktu kita bersua lalu bergabung di sebuah sudut di konser Suede tahun 2002 di Jakarta. Bahkan saya yang mengaku penggemar berat Brett Anderson & co. sekali pun tak sefasih Adib melantunkan hampir tiap jengkal lirik yang disenandungkan band asal London tersebut. Shame on me. Serta tentu saja ketrampilannya dalam menulis, kecakapannya mengambil sudut pandang terhadap suatu isu hingga melahirkan sebuah artikel yang menarik untuk dibaca. Kesan yang muncul dari gayanya menulis: hangat, bijak, dan terukur.

Sangat Adib. Belakangan ini saja—utamanya sejak bergabung dengan Rolling Stone—tulisan Adib (+ tim yang dikomandoinya) sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya. Agak berubah, tersimak sedikit lebih “galak”. Bisa jadi itu adalah bentuk kepeduliannya, format perlawanannya terhadap kecenderungan musik Indonesia yang sebagian kok justru tambah najis. Tampaknya Adib (disokong kolega kerjanya di Rolling Stone) sedang mencoba mengambil semacam langkah penyelamatan demi maju-lancarjayanya skena musik Nusantara. Right on. Stay badass.

Berikut petikan wawancara via e-mail antara Adib dengan Igo, Robin Malau serta saya (yang di sini merangkap pula sebagai editor dan penulis mukadimah). Kami bertiga kala itu sedang berkolaborasi menggarap projek Musikator ~ Blog Direktori Musik Indonesia.

¡IGO!

1. Siapa (dan/atau judul karya tulisnya) yang memotivasi anda untuk mulai menulis?
Kalau dilihat dari kebiasaan sejak kecil saya yang sangat suka membaca. Bisa jadi dari banyak bacaan itu tampaknya kemudian yang memaksa dan memompa otak saya untuk menulis. Namun saya belum mau dan belum ada niat menulis sampai saya kuliah. Efek dari suka membaca sejak kelas 5 SD saya sudah berkacamata minus 2. Ini akibat suka membaca komik dan cerita silat bersambung di kamar di tempat gelap, karena kalau terang akan diketahui orang tua. Dan sudah pasti saya kena marah. Saya akan kembali dipaksa belajar atau mengaji. Bukan hanya mengaji Al Quran, tapi juga kitab-kitab kuning (Jurumiah, Safinah, Tafsir Jalalen dsb…) yang dikenal di kalangan NU.  Sampai SMP saya sekolah dua kali. Pagi sekolah umum biasa. Sore sekolah agama, istilahnya sekolah Arab. Belajar ilmu agama Islam tentunya.

Dulu TK penyuka komik Donald Bebek (Hahaha). Di SD berlanjut kemudian pada Kho Ping Ho dan komik sejenis Jan Mintaraga, Abuy Ravana, Djair, Han, dan sebagainya. Berlanjut kemudian SMP pada novel-novel terjemahan yang marak saat itu. Sebut saja Lima Sekawan dan Trio Detektif. Ini yang menjadi idola saya. Imajinasi yang melayang, menikung, dan mendebarkan menarik perhatian saya. Namun saya belum mulai mencoba menulis. Tapi saya juga mulai menyukai majalah Vista. Majalah musik yang saya dapatkan di toko loak di daerah Shopping Centre di Salatiga. Di Vista ini saya menemukan tulisan dan profil band era 80-an seperti Krokus, Quiet Riot, Twisted Sisters, atau yang klasik seperti Black Sabbath, Led Zeppelin, Deep Purple, dan Genesis.

Bahkan saat masuk di jurusan Bahasa di SMA I Salatiga saya masih belum mau menulis. Saat itu saya mulai menyukai karya sastra Indonesia. Iwan Simatupang, Sutan Takdir Alisyahbana, Tulis Sutan Sati, Remy Sylado dengan puisi mbeling mulai saya kenal baik. Pula mulai menyukai cerita pendek yang bertebaran di majalah dan Koran.

Kemudian saat kuliah, saya masuk di sastra Inggris. Makin banyak karya sastra Inggris dan Amerika yang saya baca. Tidak hanya novel, naskah drama, cerpen, juga puisi dan prosa. Dari mulai era Shakespeare, Colleridge, Blake, Hardy, Fiztgeralds, Jack London, Edgar Allan Poe, Raymond Carver, Tony Morrison, plus dengan teori-teori untuk melengkapi cara membaca buku-buku tersebut. Seperti post-strukturalis, naturalisme, dan juga buku-buku dari para pemikir seperti Edward Said, Lacan, Derrida, Foucoult dan banyak lagi.

Namun yang paling membuat saya terkesan adalah justru buku No One Here Gets Out Alive karya Danny Sugerman yang bercerita tentang sosok Jim Morrison dan The Doors. Buku yang saya beli di sebuah toko bekas di Cihapit, Bandung. Secara detail Danny Sugerman yang pernah menjadi manajer The Doors bisa masuk dalam tiap bagian buku dengan sangat detail dan selalu penuh kejutan. Seolah buku itu film bersambung yang kita selalu ingin tahu sampai dimana dan bagaimana kelanjutan karakter yang dibaca. Saya bahkan kemudian sempat mengajukan skripsi berupa telaah puisi-puisi dari James Douglas Morrison atau Jim Morrison. Namun menurut dosen saya, puisi Jim Morrison belum layak disebut sebagai karya sastra.

Akhirnya saya menyusun skripsi tentang Aspek Naturalisme dan Tiga Novel Paska Perang Saudara di Amerika. Saya mengambil rujukan dari novel Red Badge of Courage, White Fang, serta The Octopus. Secara bersamaan saya mulai banyak membaca jurnal kebudayaan Kalam. Tulisan dari Ari Jogaiswara (dosen saya juga di sastra Inggris), Nirwan Dewanto, Hasief Amini, dan scene Kalam banyak menarik minat saya. Juga tulisan mengawang dari Bre Redana di Kompas yang kerap menulis musik namun memakai pendekatan post-strukturalis dengan memasukkan teori hiperealitas dan sebagainya. (Belakangan saya berteman baik dengan Bre Redana, di ulang tahun Rolling Stone Indonesia yang ke-5 tahun 2010 dia bahkan saya undang menjadi pembicara, mengomentari perjalanan majalah Rolling Stone Indonesia)

2. Siapa figur yang banyak mempengaruhi gaya tulisan anda?
Gaya tulisan saya awalnya banyak mengedepankan riset serta deskripsi suasana yang membuat pembaca seolah berada atau mengalami hal yang terjadi. Saya mendapat ide ini banyak dari buku No One Here Gets Out Alive karya Danny Sugerman dan Jerry Hopkins. Kemudian ternyata gaya seperti itu mendekati teknik Jurnalisme Sastrawi yang banyak dikenalkan oleh Andreas Harsono dan sindikasi Pantau. Mungkin buku-buku sastra yang saya baca ikut membentuk teknik saya ini. Walau harus digaris bawahi detail tentang teknik Juranalisme Sastrawi bukan semata menulis tentang hal-hal dengan pendekatan sastra. Tom Wolfe memulai gerakan ini di Amerika Serikat pada 1960-an dan bagaimana suratkabar-suratkabar Amerika mengambil elemen-elemen genre ini. Atau Hiroshima karya John Hersey. Ini sebuah karya klasik, dimuat majalah The New Yorker pada Agustus 1946, yang pernah dipilih sebuah panel wartawan dan akademisi Universitas Columbia sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika pada abad XX. Tidak ada figur personal yang menjadi patokan atau rujukan utama dalam menulis.

3. Sebutkan dan ceritakan sebuah momen yang tidak mungkin terlupakan sepanjang karir jurnalistik anda?
Saya dulu suka mimpi, majalah Rolling Stone masuk di Indonesia. Dan mimpi itu menjadi nyata. Saya suka membeli majalah bekas Rolling Stone versi US atau Australia di Cikapundung, Bandung. Teman saya tahun 2001 pernah memberi kado berupa buku kecil tentang quote-quote rockstar dunia yang pernah dimuat Rolling Stone. Dia tahu saya suka dengan majalah musik. Dan mimpi saya, Rolling Stone ada di Indonesia, ternyata terwujud tahun 2005.

Tak cuma berhenti di situ, pada tahun 2007 saya berkesempatan hadir ke kantor Rolling Stone di New York. Bahkan bisa berbicara dan minum wine bersama Jann S. Wenner, pendiri majalah Rolling Stone di rumah mewahnya di jantung kota New York. Berbagi bir dengan David Fricke, penulis senior Rolling Stone US. Tahun 2011 kembali saya hadir di markas besar Rolling Stone di New York, bertemu dengan perwakilan 18 negara yang menerbitkan Rolling Stone. Paling menggembirakan tentunya adalah hadiah tiket dari Rolling Stone US, menyaksikan The Big 4 di Yankee Stadium New York, melihat 4 raksasa metal dunia: Metallica, Slayer, Anthrax, Megadeth bersama hampir 100 ribu lebih penonton.
Adib dan Anthrax

4. Sebelumnya, eksistensi seorang penulis—salah satunya—diukur dari seberapa kerap karya-karyanya dipublikasi di media cetak umum konvensional. Sekarang mulai bermunculan nama-nama baru yang dikenal bahkan di hormati melalui karya-karyanya yang dimuat dunia maya. Bagaimana pendapat Anda mengenai fenomena ini?
Media cuma sebatas wadah. Media cetak lewat majalah, koran, atau jurnal, maya, atau zine. Seorang Andreas Harsono menurut saya lebih dikenal dengan blog dia saat ini daripada jaman di Pantau. Rudolf Dethu dikenal baik di dunia maya berkat tulisan yang memakai struktur era Majapahit bercampur teori-teori ilmiah yang memiliki ciri khas yang menarik.

5. Era digital dituduh sebagai pemicu utama pembajakan. Baik secara masal maupun personal. Bagaimana pandangan Anda sebagai penulis yang banyak berkonsentrasi pada dunia musik terhadap situasi tersebut?
Ini efek bola salju dan tindakan terburu-buru label menurut saya. Dulu saat Napster dianggap menjadi masalah, pihak label heboh malah melakukan tuntutan dan meminta Napster ditutup. Padahal masa depan itu ada dalam format digital. Jika saja saat itu langsung ada sebuah peraturan yang mengatur fungsi media digital untuk menyimpan dan kemudian bisa diunduh secara legal pasti tidak akan separah saat ini. Kondisi saat ini sudah diluar kendali. Jika di Indonesia bajakan itu ibaratnya narkoba yang dijual bebas. Nilai yang berputar di bajakan saya berani jamin lebih besar dari perputaran narkoba yang ada di Indonesia. Ini bisnis trilyunan rupiah dan pemerintah masih buta (atau pura-pura buta) pada kondisi yang ada.

Untuk dunia digital di dunia maya ini juga sudah parah. Berbagai engine untuk melakukan unduh lagu atau menyimpan lagu sangat mudah dicari dan tinggal googling semua beres. Tersedia komplit. Tinggal sedot. Cari artwork di amazon. Dan jadikan sebagai playlist di iPhone atau iPod Anda. Atau simpan dalam format MP3 tampung dalam CD kosong murahan dan putar di mobil saat pulang kerja atau kuliah. Semudah itu. Jangan salahkan kami jika hendak mengetahui update sebuah lagu atau band yang lagu atau band tersebut tidak dirilis atau beredar versi import kami akan lari ke dunia maya. Semua tersedia. Namun saya pribadi termasuk kolektor yang masih suka memegang artwork dan membalik-balik sleeve kover sebuah album. Saya selalu membeli album, terutama import. Tidak hanya yang baru. Kawasan Jalan Surabaya, Taman Puring, atau di Dipati Ukur di Bandung menjadi lokasi hunting yang menarik.

Hunting CD bekas jauh lebih mengasikkan. Terakhir saya akhirnya dapat CD Sacred Reich album American Way dan Independent. Ini CD langka. Dengan membeli CD saya suka memperhatikan siapa yang menjadi produser. Atau menemukan nama-nama di balik proses produksi album, Terry Date, Brendan O’Brien, Steve Albini, John Alagia, Chris Lord-Alge, atau menemukan si pembuat artwok apakah dibuat oleh Roger Dean, Hipgnosis, Hugh Shyme, Arik Ropper, Paul Romana, James Jean dan sebagainya. Saya sampai saat ini bisa saling korespondensi dengan Hugh Shyme dan Paul Romano.

6. Kemana arah industri musik, khususnya Indonesia, di masa mendatang?
Akan berputar terus. Tapi di Indonesia lagu yang enak dan mudah dicerna masih menjadi jualan paling signifikan. Peran TV seperti SCTV yang menampilkan semua band dari kelas A, B, C, D sampai Z ikut menyebarkan virus ini. MTV saat ini menurut saya kehilangan pola, lagu yang diputar terkadang tidak bersinergi dengan sebuah album yang sedang menjadi best seller atau lagunya diputar di radio tertentu. Namun peran TV masih ampuh. Kuantitas kemunculan band di TV bisa sangat membantu penjualan RBT mereka. Sekarang, di 2012, KFC menjadi primadona baru dan harapan dari label, namun musisi di jalur lain setia dengan karya merilis album, menjual merchandise, dan menaklukkan panggung demi panggung.

7. Apa saran Anda bagi para pelaku seni musik untuk menyikapinya [terkait dengan pertanyaan no.5 dan 6]?
Carilah pemasukan dengan cara membuat lagu yang mudah dicerna dan diterima pasar. Namun pasar juga bisa diciptakan. Jika sudah kaya dari produk tersebut bikinlah karya idealis. Idealis separah Frank Zappa, Fantomas, Mr. Bungle, Boris, Tomahawk, Peeping Tom atau John Zorn jika mau. Musisi perlu update dengan teknologi, bisnis musik, legal, dan hak dan kewajiban dia sebagai musiai. Jangan kemudian menyesal ketika tertipu oleh orang yang dia percaya.

Idealis kadang selalu memiliki musuh bernama pasar. Namun akan lebih baik jika mereka masih bisa berkarya yang mudah diterima namun masih dalam koridor kelayakan sebuah komposisi. Nantinya media akan menyerap sendiri. Bisa jadi konsep album bergaya A tidak akan cocok di media B. Namun sebaliknya band atau album milik C malah diterima dengan gempita di media B. Dan fungsi media adalah untuk menjadi pemantau dari banyaknya rilisan yang muncul. Katakanlah jika media semua memuat artis apa saja yang memiliki rilisan dengan kualitas entahlah. Akan menjadi gado-gado yang tidak bagus bagi media tersebut. Akan menjadi seperti asal muat. Ini yang harus dihindari. Terkadang gesekan muncul jika band teman minta dimuat atau di-review. Tapi sudah seharusnya kita bisa jujur dalam hal itu. Bukan asal teman lantas ditulis bagus.

8. Bila melihat peta musik internasional, dimana posisi Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir?
Kita masih akan menjadi salah satu negara pembajak paling besar. Untuk urusan musik saya pikir bisa main di kelas festival di negara-negara lain akan lebih terbuka. Istilahnya main di Singapura dan Malaysia saat ini semudah main di Jogja atau Bandung. Link ke Asia sudah terbentuk. Tinggal materi yang akan dibawa ke negara lain itu harus benar-benar dipersiapkan. Supaya link ke Eropa atau Amerika bisa terbentuk. White Shoes & The Couples Company sudah memberi contoh yang baik. Akar musik pop Indonesia mereka kuat. Mereka di-sign oleh Minty Fresh, label cukup terkemuka di scene indie Amerika. Mereka diundang main di SXSW di Austin. Satu gig dengan R.E.M., My Morning Jacket dan Lou Reed. Bahkan kalau tidak telat mereka akan tampil bersama 9 band lain untuk tampil di Lou Reed Nite bersama dengan Sonic Youth, Kim Deal, J. Mascis, dan sebagainya.

9. Secara pribadi, apa mimpi terbesar Anda pada musik Indonesia di 10 tahun mendatang?
Pemerintah atau nanti presiden baru benar-benar faham dunia musik. Musik sama pentingnya dengan olah raga. Musik sama pentingnya dengan kesehatan. Juga bermimpi ada beberapa gedung pertunjukan yang menampung ragam musik dari berbagai genre. Berharap divisi merchandise untuk band bisa dikembangkan dan menjadi warisan yang sama mahalnya seperti halnya CD atau kaset bahkan vinyl yang menjadi barang langka. Saya mungkin akan bangga menyimpan kaos tur Roxx di Soundrenaline tahun 2004 jika dikemas dengan sangat baik. Band dan manajmen kudu membuka diri. Membuka mata di dunia maya. Rajin membaca.

¡ROBIN MALAU!

10. Di era digital sekarang, apakah musisi masih bisa mencari uang dari album rekaman? Or should they forget about it dan berkonsentrasi sama show, merchandise dsb? Jika ya, apakah ini berarti merubah esensi pekerjaan mereka sebagai musisi atau model bisnis industri ini memang sudah berubah (dan kebanyakan dari kita belum sadar)?
Era fisikal bagi band kecil mungkin dianggap sudah finish! Namun, tetap saja ada bilangan angka yang menjadi masukan dari kemasan fisikal. Show, merchandise, dan iklan boleh dibilang sumber masukan yang paling ranum saat ini untuk para musisi. Juga tentunya dunia RBT yang masih menjadi candu memabukkan. Tanpa kerja dan nggak usah capai, duit datang. Walau masih rebut antara ASIRI dan KCI yang saat ini kabarnya dimenangkan oleh ASIRI dan melarang KCI sebagai collecting society. Banyak band yang tadinya zero bisa menjadi hero berkat RBT. Sebuah band sederhana di Sukabumi bisa mendadak bisa bersanding dengan band papan atas di TV Swasta terkemuka berkat aktifasi RBT lagu mereka yang laris manis. Namun fisikal tetap harus diperhatikan. Bisa saja media untuk menyimpan lagu tersebut yang harus diubah. Keane, the White Stripes, dan Mars Volta membuat USB untuk menampung lagu mereka. Harus ada inovasi baru untuk menyimpan materi lagu. Kaset dan CD akan menjadi barang kuno kemudian. Jadikan HP seri terbaru sebagai media menyimpan album terbaru misalnya? Seri CDMA yang makin murah meriah itu misalnya? Si pembeli selain membeli HP secara tidak langsung sudah membeli sebuah album. Artwork bisa disimpan dalam format pdf di file penyimpanan HP atau USB. Bisa jadi bisa lewat perangkat lain yang akan menjadi trend kemudian. Siapa tahu?

¡RUDOLF DETHU!

11. Sebagian dari staf Rolling Stone adalah juga praktisi musik aktif (anak band, manajer band), tentu susah bagi Anda untuk bersikap adil. Bagaimana Anda menyikapi ini? Apa kiat menghindari vested interest macam begini?
Rata-rata mereka kemudian sadar diri. Dari yang dulu sedikit malu-malu untuk memuat artis atau diri mereka kemudian mereka meminta dengan sendirinya supaya jangan terlalu sering muncul di Rolling Stone. Ini bagus. Walau secara fan-base rata-rata band yang personel atau manajernya ada di Rolling Stone memang sesuai dan cocok dengan segmentasi Rolling Stone. Walau gesekan itu ada. Namun seminim mungkin coba dihindari.

12. Kolom resensi album Rolling Stone belakangan ini makin “galak”, cenderung bicara apa adanya. Sebuah fenomena baru dan segar bagi skena musik Nusantara yang tadinya penuh unggah-ungguh, terlalu ewuh pakewuh. Bisa jadi Anda pernah punya pengalaman tak mengenakkan gara-gara memberi nilai buruk terhadap album tertentu. Bisa diceritakan?

Kami mencoba menjadi pemantau yang jujur. Kami bicara apa adanya sesuai penilaian dan standar kami. Ini untuk memberi pembelajaran. Teman tetap teman. Namun kami mencoba terbuka. Sebuah album kerap kami perdengarkan bersama sebelum diberi bintang. Tidak jarang diantara kami sendiri saling debat. Apa layak misalnya album terakhir Pure Saturday mendapat bintang lima? Kami sepakat memberinya bintang empat kemudian. Banyak yang kemudian menjauh atau menjadikan kami sebagai musuh mereka. Kami dianggapnya sok tahu. Kami dianggap tidak memberi support pada rilisan dan karya musisi dalam negeri.

Bukan itu sebenarnya inti permasalahan, kami ini bisa dibilang pemantau atau kritikus dalam bahasa lain. Anda bekerja membuat karya, kami menilai karya Anda tersebut. Bisa saja kan kemudian penilaian itu tidak sesuai dengan mereka? Ya itu wajar saja menurut saya. Saya pernah ditelpon Glenn Fredly saat saya mereview album ost. Badai Pasti Berlalu. Namun kemudian setelah saya jelaskan Glenn akhirnya terima. Kadang di kita melakukan penilaian sebuah karya masih dianggap menyerang sosok pencipta. Itu salah. Kita me-review karya. Bukan personal si pembuat atau si pelantun lagu. Namun jika kemudian karya dari si artis begitu-begitu saja pasti ada diskursus yang mengarah kesosoknya. Walau tidak mutlak.

13. Bagaimana cara Anda dan tim Anda di Rolling Stone melakukan standardisasi terhadap siapa artis yang layak atau artis yang tidak layak untuk tampil di Rolling Stone? Saya perhatikan ada beberapa band yang sama sekali tidak pernah Rolling Stone munculkan, sebaliknya ada juga band yang kemunculannya kelewat sering. Mohon jelaskan.
Dalam sebuah meeting kami suka memasukkan nama untuk dijadikan profil. Ada ragam tanggapan yang masuk. Artis yang kami plot sebagai profil rasanya akan lebih cocok jika dijadikan sebagai rubric fashion saja di majalah kami. Atau band yang secara kualitas menurut standar Rolling Stone tidak layak muat ya tidak kami muat. Bisa jadi band atau artis itu cuma layak di halaman review. Kami memakai sebuah ukuran untuk siapa yang layak dan tidak layak. Kami bisa saja memberikan sebuah nama yang menurut kami memiliki kualitas dan konsep yang layak dan harus untuk diperkenalkan walau mereka tidak dikenal sama sekali atau jarang ada yang mengenal. Kami juga bisa menulis sebuah sosok karena dia atau mereka sedang menjadi omongan berkat karya atau kejadian yang mereka hadapi. Namun yang pasti, cetak biru dari Rolling Stone original karya cipta Jann S. Wenner tetap menjadi blue print yang menjadi acuan kami. Perlahan kami mengetahui soul dari Rolling Stone. Siapa yang layak dan cocok masuk Rolling Stone. Ada parameter yang kami miliki. Walau terkadang parameter itu bias, namun selama ini kami cukup kuat dan kokoh menjaganya.

14. On a lighter note, silakan sebutkan;

5 Album Musik Paling Berpengaruh Dalam Hidup:

Jeff Buckley Grace | Led Zeppelin II | Counting Crows August and Everything After
Metallica …And Justice For All | The Beach Boys Pet Sound

________________

DATA PERSONAL

Nama: Adib Hidayat
Tanggal Lahir: 14 Agustus 1974
Surel: adib.hidayat@gmail.com

PERJALANAN KARIR

2011 – Sekarang:  Editor In Chief Rolling Stone Indonesia
2007 – 2011; Managing Editor Rolling Stone Indoensia
Desember 2006 – 2007: Deputy Managing Editor Rolling Stone Indonesia, Jakarta
Juli 2006 – November 2006: International Label Manager and Strategic Label manager, Warner Music Indonesia, Jakarta
Maret 2005 – Juli 2006: Senior editor, Rolling Stone Indonesia, Jakarta
September 2004 – Maret 2005: Senior Editor MTV Trax dan COSMOgirl, Jakarta
September 2002 – Desember 2004: Music Editor, Gadis, Jakarta
Desember 2002 – Juli 2002: Music Editor Cleartop10.com, Jakarta
Mei 1999 – Juli 2002: Reporter Gadis, Jakarta
Mei 1998 – September 1999: Freelance Music Reporter Pikiran Rakyat, Bandung

PENDIDIKAN TERAKHIR

1993: Universitas Padjadjaran, Bandung
Bachelor, Major in English Literature, Faculty of Arts

________________

*Perbincangan hangat panjang lebar dengan Adib ini sejatinya merupakan materi lama, Maret 2008, dimuat pertama kali di Musikator. Saya putuskan untuk mengunggahnya kembali—serta ubah sedikit judul dan isinya—di situs pribadi saya dalam rangka pengarsipan dan dokumentasi rupa-rupa hasil kerja saya yang banyak tercecer di sana-sini. Selain itu, saya pikir isi dari artikel ini masih cukup relevan dengan kekinian juga.

One thought on “Adib Hidayat: Bromancing the Stone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *