99 Problems

Sedikit curhat colongan. Ahem.

Asal tahu saja, saat muda-berangkat-dewasa saya pekat teracuni oleh Hip Hop. Coretan “I Rap-a-Lot” banyak berceceran di buku tulis (terinspirasi Sir Mix-a-Lot, indeed), bak mendeklarasikan opsi musik favorit saya ketika itu. Selain b-boys langgam gagap macam Public Enemy, Beastie Boys, Eric B. & Rakim, Kool Moe Dee, Compton’s Most Wanted, dan N.W.A.; Ice-T merupakan salah satu suri paling tauladan. Dan tembang 99 Problems dari album Home Invasion ini kerap menjadi lagu penyemangat ketika saya sedang ketiban masalah (baca: disia-siakan lawan jenis).

» Got 99 problems but a bitch ain’t one – hit it
Nah, a bitch ain’t one
… «

Refrain tersebut relatif efektif menghibur bencana asmara saya—tidak selalu sih, namanya juga patah hati, daya gegarnya jelas berbeda dong dengan sekadar kehilangan iPod Nano…

Nah, kemarin, dalam sebuah percakapan ringan, karib saya sempat menyebut Jay-Z sebagai pengusung lagu 99 Problems. Huh? Really? Setahu saya Ice-T—disokong personel 2 Live Crew, Brother Marquis—merekalah yang paling bertanggungjawab dalam memborbardirkan frase monumental “Got 99 problems and a bitch ain’t one” ke jagat Hip Hop.

Well, Jay-Z is not my shot of tequila. Him (and P. Diddy, too), I never think they are oh-so special. Utamanya improvisasi mereka dalam mendaur-ulang sebuah karya. Semenjana saja. Mostly mediocre. Tapi saya penasaran, secanggih apa sih, reinterpretasi Jay-Z terhadap 99 Problems? Padahal single tersebut diproduseri sosok selegendaris Rick Rubin, setelah saya dengarkan seksama, bagi saya tidaklah ultra istimewa. Just another me-myself-and-I cliché. Atau, hey, mungkin saya sekadar sirik, lebih karena faktor Jay-Z sukses mem-frenchkiss-i (dan selanjutnya) Beyonce? Sedangkal itu? Ah, tidak juga. Sejujurnya memang kurang nendang. Lucunya lagi, Jay-Z dengan culasnya me-hak paten-kan judul tersebut. Buset.

Yang meradang malah Brother Marquis (lihat foto di bawah, berjaket hijau). Jay-Z spontan dituntut. Tak cuma itu, Ice-T, yang dulu diajaknya bekerjasama pula diminta pertanggungjawaban royalti. UUD, ujung-ujungnya duit. Ha.

Kemelut ini memang sudah lama, November 2005. Sementara saya sendiri kurang berminat membahas lebih jauh (told ya, homie, I got 99 problems and Jay-Z ain’t one). Namun yang bisa dipelajari di sini, moral dari curhat colongan ini adalah ketika–b-boys and fly girls, listen up y’all—anda mendaur ulang sebuah lagu sebaiknya pelajari aspek legal-formalnya agar terhindar dari kisruh hukum di kemudian hari.

Paling terakhir, jika anda punya pengetahuan lebih tentang kapan disebut menjiplak lagu kapan belum, mohon beri komentar. Word.

______________________

*Artikel ini sudah sedikit direvisi. Yang orisinil dimuat di Musikator pada Mei 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *